NUSANTARA| PARIWISATA

Posted on Posted in COMMUNITY, VACATION

tukang-jalan.com® –   PERISTIWA itu terjadi saat ribuan pengunjung memadati pantai wisata BAtukaras, 40 km barat Pantai Pangandaran, Juli lalu. Pantai yang bentuknya setengah melingkar sepanjagn 500 m itu sangat padat sehingga wisatawan berenang mendekati pantai yang terlarang untuk berenang. Batas pantai terlarang ditandai dengan bendera merah yang ditancapkan setinggi 3 m.

itulah kesiagaan petugas Balwista di sepanjang pantai wisata Pangandaran, terutam asaat pengunjung ramai. Seperti liburan lebaran lalu, kali ini puluhna ribu pengunjung memadati pantai batukaras yang sering disebut sebagai “Bali Kecil Pangandaran”. Relawan Balawista , yang jumlahnya 12 orang termasuk Kapten Pos Batukaras , M Kasan (40), semakin siaga. Mereka dilengkapi peratan alat penyelaman.

Mereka terus memonitor peregerakan wisatawan dan mengingatkan mereka secara terus-menerus melalui pengeras suara jika ada perenang yang mendekati area berbahaya. Para perenang bisanya tidak merasa, ketika mereka turun ke laut di sebelah timur, pelan-pelan mereka terseret arus arah ke barat. Tipologi ombak pantai itu berupa arus pinggir yang memutar ke arah batu karang di sebelah barat.

Kondisi ini membahayakan wisatawan yang biasanya ceroboh dan langsung berenang di pantai tanpa mengetahui pola arus laut. Sebelum tahun 2000, pernah terjadi wisatawan meninggal di tempat itu ketika bermain bola di pinggir pantai. Tiba-tiba bola tertendang ke tengah gelombang. Mereka mengejar bola sambil menerjang ombak. Namun, arus laut menyeret mereka kea rah barat dan akhirnya tak dapat diselamatkan.

Saat itu belum ada Balawista karena tim penyelamat pantai atau sering disebut life guard ini resmi dibentuk pada 2001. Sebenarnya, ada sejak 1995, sudah ada relawan Balawista di pantai utama pangandaran, tetap baik dari sisi kelembagaan, personel, maupun peralatan, masih terbatas.

Tim penyelamat pantai dibentuk dengan tugas menjaga dan mengingatkan wisatawan agar mereka tidak masuk arus bahaya. “Sejak Balawista berdiri, alhamdulilah kecelakaan laut di Batukaras berkurang. Namun, selalu ada satu dua wisatawan yang pingsan saat mereka berenang,” tutur kasan.

Sembrono

Di sela-sela memantau ribuan wisatawan, para relawan memunguti sampah yang biasanya dibuang sembarangan oleh wisatawan. Sampah-sampah dikumpulkan di pinggir pantai. Jika sudah terkumpul banyua, petugas kebersihan dari Pemkab Pangandaran akan mengangkut sampah-sampah itu ke temapt pembuangan. Kebersihan pantai juga merupakan tugas mereka agar patnai yang airnya masih bersih itu tetap terjaga.

Wisatawan membutuhkan keamanan dan kenyamanan selama berwisata di pantai, apalagi saat mereka berenang di laut. Sayangnya, menurut pengalaman relawan, sebagian besar wisatawan cenderung sembrono jika mendekati pantai. Wisatawna langsung bermain dan berenagn tanpa mengetahui situasi dan kondisi arus lautnya.

Apalagi jika meliaht sudah ada orang yang berenang, mereka langsung ikut menceburkan diri ke pantai. “Padahal orang yang lebih dulu itu juga tidak pernah bertanay kepada kita bagaimana pola arusnya,” ujar Andri.  Oleh karena itu, keberadaan Balawista sangat penting untuk mengamankan pengunjung dalam pengembangan wisata pantai.

Apalagi, kawasan pantai di Pangandaran hingga kini masih merupakan tujuan wisata primadona di Jabar. Malah pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Pangandaran yang saat ini mencapai Rp 64 miliar. 20-25% disumbang karcis masuk wisatawan ke kawasan pantai.

Komandan Balawista Pangandaran Dodo Taryana mengatakan, kini kelompok relawan yang dipimpinnya beranggotakan 30 orang dan ditempatkan  di lima pos pantai utama Pangandaran. Satu pos lagi ada di Pantai Batukaras yang dipimpin M Kasan. Para relawan rata-rata mendapat honor dari Dinas Pariwisata Pangandaran Rp 1,5 juta per bulan.

Untuk menjaga kondisi, baik fisik maupun kepiawaian dalam memberikan pertolongan ,secara periodic anggota Balawista harus mengikut pelatihan, permbekalan, dan keigatan laithan rutin lainnya. “Seminggu sekali, kami harus melatih kecepatan berenang di bawah 9 menit sampai ke titik korban,” ujar Andri.

Setahun sekali, secara bergiliran mereka wajib mengikuti life guard contest, biasanya berupa lomba lari dan berenang atau swim-run. Lomba kecepatan berenang dan lari di pantai itu bisanya digelar di Pangandaran, Pelabuhan Ratu, Sukabumi, atau Pantai Kuta,Bali.

Diburu wisatawan

Pantai Batukaras diburu wisatawan yang sudah jenuh berang di pantai utama Pangandaran. Pantai wisata rakyat yang terletak di Desa Batukaras, Kecamatan Pangandaran, ini memiliki kelebihan dari induknya karena menawarkan ombak bagus bagi peselancar pemula dan menengah. “Setiap liburan, selalau saja ada wisatawan asing berselancar di pantai ini,” ujar Kasan.

Jika Pantai Pangandaran bentuknya mirip Pantai Kuta, Bali, yang melekuk ke barat. Pantai Batu Karas merupakan teluk kecil yang melekuk ke timur. Di lekukan pantai ini ada arus yang mempermudah peselancar menuju lokasi gelombang terbaik tanpa mendayungnya. Di pantai ini juga terseida penyewaan untuk menyewa perlengkapan berselancar, lengka pdengan instruktur yang andal.

Karena itu, Pantai Batukaras sering disebut salahs atu surga peselancar sekaligus berenang. Batukaras tidak hanya menawarkan air yang bersih, tetapi juga ombak yang menantang. Di tempat tertentu, pantai relative landai, terutama mendekati teluk kecil di sebelah timur. Di titik ini, peselancar tidak perlu mendayung terlalu jauh ke titik awal gelombang datang.

Ketika musim ramai, pantai di teluk ini tidak mampu menampung puluhan ribu pengunjung yang datang. Akibatnya, mereka sering meluber mendekati kawasan  yang berbahaya untuk berenang. Karena itu, seluruh anggota Balawista harus bersiap penuh. [*/tukang-jalan.com® Sumber : KOMPAS, KAMIS, 20 OKTOBER 2016|Oleh : DEDI MUHTADI]

Baca juga : taman bumi cileteuh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *