gereja-ayam

Pesona WISATA INDONESIA | kreativitas masyarakat

Posted on Posted in TRIP

Tukang-Jalan.com® DUA pasang remaja tanggung seolah berlomba swafoto di tengah bening puncak Punthuk Setumbu, Kecamatan Borobudur, suatu pagi, di cerahnya bulan Juni. Di Punthuk Setumbu ini, Rangga dan Cinta menyongsong matahari terbit dalam satu adegan film Ada Apa dengan Cinta (AADC)2.

“Sudah lama dengar (Punthuk Setumbu), tetapi benar-benar pengin ke sini setelahnonton AADC 2. Katanya romantis. Walau harus naik bukit, enggak nyesel deh,” ujar Keizia Nurmala (18), wisatawan asal Purwokerto, yang diamini Dendi Faizal (18), pasangannya.

Dari Punthuk Setumbu, melepas pandang lurus arah horizon, Candi Borobudur berdiri megah di antara petak sawah dan rindang pepohonan. Kicau burung hutan sayup bersahutan. Gumpalan awan putih seperti memayungi semesta.

Punthuk Setumbu awalnya hanya dikenal di kalangan peminat fotografi alam. Punthuk adalah ungkapan warga sekitar untuk menyebut bukit. Akhir 1990-an, dari puncak bukit ini, segelintir fotografer memotret lanskap Borobudur berselimut kabut tipis pagi di tengah alam perdesaan. Foto itu bak lukisan bernuansa magis. Situs travelling CNN menyebut, panorama mentari terbit Punthuk Setumbu masuk dalam daftar 27 tempat wisata yang mengingatkan pada kemegahan semesta.

Awalnya, warga biasa menjadi pemandu jalan fotografer. Barulah medio 2007, pemuda Dusun Kurahan, Desa Karangrejo, lokasi Punthuk Setumbu, menangkap potensi wisata ini. Mereka membentuk kelompok dan mengelola resmi obyek itu.

Sekretaris Badan Pengelola Wisata Alam dan Sunrise Punthuk Setumbu (BPWASPS) As’ad Muzaki (30) menuturkan, anggota kelompok ini terdiri dari petani, pedagang di kawasan candi, dan para pemuda. “Sekitar 50 persen pengurus adalah pengangguran, termasuk saya,” katanya.

Tiket masuk wisatawan domestik dipatok Rp 15.000 per orang dan Rp 30.000 bagi turis asing. Hari biasa, jumlah pengunjung 100-200 orang per hari dan pada musim liburan bisa mencapai 500 orang. Rata-rata omzetnya Rp 70 juta per bulan.

Dikelola profesionalpesona-wisata-indonesia-pilar-peradaban

Menurut As’ad, 10 persen hasil wisata alam Punthuk Setumbu masuk kas desa. Sebagian untuk membangun infrastruktur penunjang wisata, mulai dari akses jalan masuk, lokasi parkir, hingga lampu penerang jalan ke puncak. Sebab, banyak peminat Nirwansa Sunrise-nama paket wisata Punthuk Setumbu-berangkat pada dini hari untuk menunggu matahari terbit.

Manfaatnya dirasakan betul oleh warga, salah satunya Priyono (45), anggota BPWASPS. Dari berdagang asongan di Candi Borobudur, dirinya mendapat Rp 100.000-Rp 150.000 per hari dan dari wisata Punthuk Setumbu ia mendapat Rp 250.000-Rp 400.000 per bulan. “Sekarang, target kami menjadikan kawasan Punthuk Setumbu sebagai agrowisata,” ujarnya.

Dua kilometer sebelah timur Punthuk Setumbu, di Desa Candirejo, kegiatan wisata desa sudah lebih dulu dikelola profesional. Kini, omzetnya Rp 800 juta-Rp 1 miliar per tahun.

Sekretaris Desa Wisata Candirejo Ahmad Mudofar Ersidik (27) mengatakan, keberhasilan desanya dirintis sejak 1997. Ketika itu, Candirejo berada pada urutan ke-17 desa termiskin dari 20 desa di Kecamatan Borobudur. Pemerintah desa berinisiatif mengangkat kesejahteraan warga dengan program desa wisata.

“Sekitar 1980, sudah banyak turis Perancis jalan-jalan keliling desa. Lalu kepikir, kenapa model wisata ini tidak dikelola saja,” ujar Ersidik.

Pihak desa pun memetakan potensi dusun. Ada yang dijadikan homestay, wisata alam, hingga wisata kerajinan tangan, dan pangan lokal. Saat terpilih sebagai proyek percontohan desa wisata di Magelang pada 1999, banyak warga diikutkan program pelatihan. Dari situ, mereka belajar bahasa asing dan manajemen industri pariwisata.

Mereka juga menjalin relasi dengan agen wisata. Kini, ada 10 paket wisata dengan harga Rp 125.000-Rp 2,5 juta per orang. Satu periode, Candirejo pernah menerima 600 tamu menginap, kebanyakan turis asing.

Tak hanya tambahan pemasukan, pariwisata yang dikembangkan di sekitar Borobudur juga menambah wawasan dan pengetahuan, di antaranya kemampuan berbahasa asing dan pengalaman berinteraksi dengan warga dari belahan negeri lain.

“Pernah satu kali, kami kedatangan kerabat keluarga Kerajaan Inggris Raya yang ingin berjalan-jalan di desa tanpa pengawalan. Kan hebat banget, kapan lagi, kami rakyat jelata bisa bebas berjalan-jalan dengan keluarga raja,” ujar Ahmad Budianto (36), pemandu wisata.

Mengubah wajah desa

Kisah sukses ini menular, menginspirasi desa lain. Terbaru adalah fenomena Bukit Rhema, bangunan unik menyerupai bentuk merpati atau ayam di Dusun Gombong, Desa Kembanglimus. Bangunan yang disebut “Gereja Ayam” oleh warga ini menjadi daya tarik terbaru di sekitar Borobudur.

Selain arsitektur unik, pemandangan dari mahkota bangunan ini tak kalah eksotik. Lagi-lagi, setelah menjadi tempat pengambilan gambar film AADC 2, pengunjung membeludak. Baru potensi ini ditangkap.

Tikna Ircham Muktavi, Kepala Dusun Gombong, menyaksikan geliat wisata di gereja ayam mengubah wajah tempat kelahirannya. “Walau letaknya tak jauh dari candi, dulu, dusun ini terkenal miskin, juga langganan kekeringan. Pemudanya pengangguran,” katanya.

Kini, warung-warung bermunculan. Uang dari lahan parkir menambah pendapatan. Beberapa bahkan mulai merintis membangun homestay.

Bupati Magelang Zaenal Arifin mendukung setiap desa mengembangkan diri menjadi desa wisata. Dengan demikian, desa akan lebih mandiri, mampu memajukan diri, dan memenuhi harapan warga untuk hidup lebih sejahtera.

Dengan keindahan alam dan semua potensinya, desa-desa di sekitar Borobudur mampu berpijak dengan kekuatan sendiri. Dengan modal tekad, mereka membuktikan tak sekadar menjadi penonton kemeriahan bisnis wisata berskala dunia belaka.

#Wisatawan menyaksikan lanskap Candi Borobudur dari atas rumah doa Bukit Rhema, yang juga dikanl dengnasebutan “Gereja Ayam”, di desa Kembanglimus, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (25/6) pagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *