PESAN DARI TEPI THAMES

Pesan dari Tepi Thames

Posted on Posted in PERJALANAN

tukang-jalan.com – sumber Kompas : OLEH NELI TRIANA, KOMPAS PRINT RABU, 11 NOVEMBER 2015

Jam kerja usai sudah di kawasan London Tengah, London, Inggris. Menyambut senja dengan segenap kelegaan, orang-orang berhamburan keluar dari kantor mereka menuju halte bus dan stasiun kereta. Namun, tempat tujuan favorit sore itu tak lain adalah tepi Sungai Thames.

#Sungai Thames di London, Inggris, akhir September 2015, dengan latar belakang Big Eye of London. Sungai yang lebar, berair melimpah, bersih terawat meskipun dikelilingi perkantoran, sibuk oleh arus pelayaran, termasuk pelayaran wisata, menjadi ikon kota London.

Bantaran sungai di sisi ini memang tak pernah sepi. Terlebih setelah pinggiran sungai yang telah menjadi bagian dari Kerajaan Inggris sejak lebih dari 1.000 tahun lalu itu dikelola dengan teramat baik oleh pemerintah dan warga setempat.

Kawasan itu juga kian hidup setelah ada pusat-pusat kegiatan yang melibatkan masyarakat yang murni dikelola swasta dan masyarakat serta menjadi tempat berkumpul, mengekspresikan diri, berbelanja, bermain, makan, bahkan meneruskan bekerja dengan suasana yang begitu rileks dan menyenangkan.

Bantaran sungai itu makin menarik berkat kerja beberapa kelompok masyarakat. Pertama, mari berkenalan dengan Southbank Centre (SC) di Jalan Belvedere, London SE1 8XX. SC dikelola oleh organisasi nonprofit yang digerakkan orang-orang yang percaya bahwa seni memiliki kekuatan untuk mengubah hidup menjadi lebih baik.

“Kami juga percaya seni itu harus bisa dinikmati semua orang dan dia ada dalam setiap detak jantung kita. Agar itu tercapai, kita perlu mengelolanya secara profesional,” kata Producer, Festival Development Southbank Centre Rachel Harris.

Rachel ditemani Sophie Ransby, Gamelan Manager di Southbank Centre, menemui rombongan pekerja kreatif asal Indonesia yang dibawa British Council Indonesia untuk melakukan studi banding di London selama sepekan, 27 September-2 Oktober 2015.

Southbank Centre dibentuk tahun 1951 oleh sekumpulan orang untuk menyelenggarakan Festival of Britain. Sejak itu hingga kini, SC berkembang menjadi tempat penyelenggaraan berbagai festival terkait seni. Dalam satu tahun, ada sekitar 5.000 kegiatan di dalam ruangan dan di luar ruang (di tepi Thames) yang digelar SC, seperti pergelaran musik, atraksi seni dan tari-tarian, seni visual dan desain, literatur dan bincang-bincang/diskusi, puisi, busana, dan makanan.

SC memiliki gedung yang amat luas yang menghadap langsung ke Sungai Thames. Di dalam gedung itu tak hanya ruang pamer, tetapi ada pusat-pusat kegiatan seperti ruang gamelan lengkap dengan seperangkat gamelan asal Solo, Jawa Tengah. Perpustakaan bisa diakses siapa pun. Ada auditorium untuk berbagai pertunjukan musik kelas dunia dan kegiatan lain. Di sini juga banyak tempat terbuka yang bebas diakses dan gratis.

Tahun 2014, penjualan tiket untuk berbagai acara yang diselenggarakan SC mencapai 1 juta lembar senilai 17,8 juta poundsterling. Dibandingkan dengan tahun 2010, ada kenaikan 20 persen penjualan tiket dan 35 persen kenaikan pendapatan dari penjualan tiket. Jumlah pengunjung 32,8 juta orang atau naik 40 persen dibandingkan dengan tahun 2010.

Revitalisasi gedung tua

Suasana berbeda tetapi tak kalah ramai dan memikat dirasakan di Tate Modern. Gedung dengan bata merah melapisi semua dinding luarnya itu awalnya adalah Bankside Power Station. Tahun 1992, Tate Trustees memutuskan mengelola gedung milik pemerintah yang sudah tidak difungsikan lagi itu menjadi galeri untuk seni modern internasional dan kontemporer di London.

Donald Hyslop, Head of Regeneration and Community Partnership dari Tate, mengatakan, gedung itu dibangun dalam dua tahap, yaitu tahun 1947 dan 1963. Power station itu aktif hingga tahun 1981 dan kemudian menjadi gedung tua tak terawat.

Pada 1996, dengan gelontoran dana 12 juta poundsterling dari English Partnerships Regeneration Agency, revitalisasi gedung dilakukan. Mesin turbin dipindahkan dan ruangan luas dengan panjang hingga 152 meter dan tinggi 35 meter menjadi ruang instalasi seni dan galeri utama.

Di sini ada toko yang menjual berbagai produk kerajinan tangan lokal dan berbagai ruang galeri lain, termasuk ruang-ruang yang diperuntukkan bagi warga sekitar untuk beraktivitas sehari-hari. Lihat saja, sekelompok ibu lanjut usia yang kini bisa berkumpul bersama membuat boneka domba lucu atau ruang bagi ibu untuk senam dan bermain dengan bayi serta anak balitanya.

Sejak dibuka pada Mei 2009, hingga kini tercatat 40 juta orang telah berkunjung ke Tate Modern. Tate menjadi satu dari tiga tempat kunjungan wisata favorit di seluruh Inggris dan telah menyumbang keuntungan ekonomi senilai 100 juta poundsterling per tahun.

Pengembangan komunitas

Tate dulu termasuk bagian dari kawasan terisolasi dekat sungai. Kawasan itu dihuni 2.800 warga lokal dan 3.000 pekerja. “Dulu di sini cukup rawan dengan kejahatan. Senjata api menjadi dekat dengan masyarakat,” kata Donald.

Kini, di kompleks bangunan seluas 34.000 meter persegi dilengkapi beberapa ruang galeri, kafe dan pertokoan, juga perkantoran, terserap 2.500 pekerja dan sekitar 60.000 pekerja lain yang berhubungan secara tidak langsung dengan Tate.

Pemerintah awalnya turut mendanai sebagian biaya yang dibutuhkan Tate Modern, selain dana dari kerja sama bisnis dan donatur. Namun, kini dana dari pemerintah kian turun seiring resesi dunia. Kondisi ini tak menyurutkan langkah Donald dan kawan-kawan. Mereka mengubah strategi untuk bisa menggaet penyandang dana dan kerja sama pengembangan bisnis.

“Yang jelas kami ingin kawasan ini tetap menjadi bagian dari masyarakat,” kata Donald.

Tate juga memelopori penataan kawasan sekitar. Beberapa bangunan tua direvitalisasi. Pemilik atau pengelola gedung tua dibantu menata gedung tua miliknya kemudian didukung untuk dijadikan tempat bernilai jual, misal menjadi kafe, toko, tanpa kehilangan keunikan bangunan lamanya.

Di tepi Thames di London Tengah, semangat baik itu berkembang. Berdekatan dengan SC dan Tate, ada banyak bisnis berbasis pengembangan masyarakat lain. Ada Coin Street, di mana komunitas warga setempat mengelola sebagian kawasannya tetap asri, rumah dan bangunan lama diubah menjadi kedai yang nyaman dan toko kerajinan.

Sisi Thames di London Tengah ini seakan berpesan, warga adalah pemilik dan penggerak kawasan yang ditinggalinya. Dibutuhkan kepemimpinan yang baik, niat, idealisme, juga sikap realistis serta profesionalitas agar kawasan lestari, berkembang, nyaman ditinggali, tetapi juga bisa menjadi ladang ekonomi. Di Ciliwung, Jakarta, kehidupan seperti di bantaran Thames pun bisa terwujud.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *