METROPOLITAN | WISATA ALTERNATIF

Posted on Posted in EXPERIENCE, JOURNAL, VACATION

Tukang-Jalan.com® DI rak warna orange tersebut tidak terpasang keterangan harga barang dalam rupiah seperti pada umumnya di toko-toko. Adapun yang ada sola matematika, baik itu berupa rangkaian angka yang ditambah, dikali, dibagi, maupun kombinasi ketiganya. Malah ada yang lengkap dengan tanda akar dan pangkat pada beberapa angkanya.

Apalagi, kemudian Bayu, pemandu wisata, mengajak mereka untuk bermain dulu. Mereka pun urung mengambil barang yangdiminati dan mengembalikan barang yang sudah dipegang ke rak semula.

Lalu, para siswi itu duduk di lantai toko, membentuk tiga baris ke belakang. Rupanya ini juga penyebab alas kaki mereka diminta dilepas ketika hendak masuk ke toko tersebut.

Begitulah Tomat, Toko Matematika, di Desa Laladon, Kecamatan Cibodas, Kabupaten Bogor. Toko relative sederhana ini milik Klinik Pendidikan Mipa (KPM), seubah lembaga yang bergerak di bidang pendidikan dan “pembumian” ilmu matematika dan ilmu pengetahuan alam.

Toko ini dikonsep tidak untuk sekadar menjual barang, tetapi benar-benar untuk menyadarkan bahwa matematika itu adalah kehidupan sehari-hari. Dan, itu bisa kita kuasai dengna mudah karena sebetulnya matematika juga permainan yang menyenangkan. Hari itu, para siswi tersebut sedang menikmati Wisata Edukasi Matematika (WEM) yang ditawarkan KPM kepada siapa saja yang ingin mengenal matematika sambil piknik.

Toko itu pun menjadi gaduh kembali ole hteriakan dan gelak tawa para siswa yang emncoba memasukkan bola-bola plastic ke dalam keranjang. Sama ribu dan bersemangatnya, seperti saat di Pos I di lantai tiga  pusat pendidikan KPM, yang tida seberapa jauh dari Tomat, sebagai Pos 2, dua dari empat pos rangkaian lokasi kunjungan WEM.

Di Pos I, peserta wisata mengerjakan soal-soal matematika berbentuk “deretan” foto pahlawan nasional Indonesia, maze angka, dan tebak nama dalam hitungan matematika. Di Pos 2, mereka bermain untuk mendapatkan bonus uang yang dapat digunakan untuk memberli barang-barang di Tomat.

“Aduh…aduh…duh…Keluar lagi keluar lagi,” teriak Sabila sembari melompat-lompat karena jengkel. Sebaba, bola plastic yang dilemparnya ke keranjang membal, kembali keluar dari keranjang. Teman-teman satu kelompoknya berebut mencoba melempar bola lainnya ke keranjang. Satu kelompok diberi waktu lima menit untuk sebanyak-banyaknya memasukkan bola.

Semakin banyak bola yang masuk semakin besasr bonus uang yang didapat dan kemungkinan dapat untuk membeli barang. Dan, tentu sajaj jadi pemenang dalam lobma permainan matematika itu.

Setelah bonus didapat, para siswa itu kembali harus berembuk dan berhitung bersama untuk membeli lima barang, tidak boleh lebih dan uang bonus harus habis untuk membelinya. Kembali mereka gaduh memutuskan untuk membeli apa, yang pas lima barang dan pas uangnya. Sementara untuk tahu persis harga barang harus menyelesaikan soal matematika yang tertera di tiap produk.

Seneng banget. Agak susah-susah, gimana gitu. Asal cermat aja karena rumus dan teknik menghitng tadi (di Pos 1) sudah diajarkan. Lagi pula sambil main,” kata Sifa mengaku ke depan akan makin yakin dalma mengerjakan soal-soal matematika.

Siti Nurmalasari, Koordinator WEM KPM, mengatakan, ada dua paket wisata yang ditawarkan bagi siswa-siswa sekolah dan kelompok-kelompok guru atau pun masyarakat yang ingin mengenal matematika. Biayannya pun relative murah, Rp 30.000 per orang untuk paket setengah hari atau dua lokasi (pos) dan Rp 100.000 per orang untuk paket satu hari penuh empat lokasi (pos).

“Kami menyelenggarakan wisata matematika ini karena di masyarakat masi htertanam matematika itu susah dan membosankan. Di sini kami memperkenalkan bahwa matematika itu menyenangkan dan mudah. Bahwa matematika itu kita temui dalam kehidupan sehari-hari itu,” papar Abdul Afif, atasan Siti Nurmalasari.

Jika memilih paket wisata yang sehari, kita juga akan diajak ke peternakan kambing, tempat belajar matematika di Kodim 0606/Kota Bogor, Polres Bogor Kota, ataupun Yonif 315/Garuda, dan Kampung Matematika. Wira-wiri ke lokasi-lokasi itu, rombongan peserta akan menggunakan angkot khas Bogor sehingga sekaligus merasakan bagaimana “menikmati” jalan-jalan dan angkot di bogor.

“Kan, banyak pelajar dan orang tua yang jarang bahkan tidak pernah naik angkot Bogor. Jadi, mereka kami perkenalkan pengalmaan naik angkot. Ke kampung Matematika juga sekaligus memperlihatkan kehidupan dan kondisi Kampung ‘perkotaan’ aslinya,” kata Teh Mala, panggila nSiti Nurmalasari.

“Tentu saja, materi dan permainan matematika yagn diberikan kepada peserta wisata tidak sama. Disesuaikan dengan tingkat pendidikan dan pemahaman ataupun permintaan peserta. Untuk siswa SLTA tentu saja beda dengan SLTP atau ibu-ibu rumah tangga. Bahkan, jika siswa yang sama pernah ikut, ketika ikut lagi pada kesempatan lain akan mendapat materi yang berbeda juga,” tutur Teh Mala.

Sindangbarang

Pilihan wisata lain yang unik adalah kampung adat sindangbarang di Desa Pari Eurih, Tamansari, Kabupaten Bogor. Di situ sedikitnya kita bisa bermain sepuasnya berbagai permainan yang memerlukan kekompakkan ataupun kemahiran individu.

Rochmad, salah seorang peserta Kampung Adat Sindabarang mengemukakan, kapan pun mau mencoba kaulinan (permainan) di sini, silakan datang. “Jika ingin menginap, ada beberapa rumah adat memang disediakan untuk epngunjung bermalam,” katanya.

Permainan yang bisa dicoba antara lain egrang, cinboy tapak tujuh, bakiak tandem, menyumpit, perepet jengkol, bedil jepret, dan marak lauk. Untuk permainan menyumpit sasaran sebuah papaya dengan “peluru” bamboo tipis berujung jarum. Sumpit terbuat dari bamboo kecil, diameter kruang dari 2 cm, bagian depan panjang lebih dari `1 m.

“Bambu tersebut dari jenis bambu taming yang biasa digunakan untuk membuat suling. Dipakai bamboo ini karena ruas bukunya panjang, jadi tidak ada hambatan untuk jalan ‘peluru’ meluncur setelah ujung bamboo satnya kita tiup. Perhatika saja sumpit iut, tidak ada bukunya,” tutur Rachmat.

Pada permainan perepet jengkol, peserta diajarkan seloka, yang mengingatkan utnuk tetap gembira dan optimistis ketika mendapat kesusahan ataupun terjepit masalah.

Silakan juga mencoba marak (menangkap) ikan mas yang ditebar di sepetak sawah. Ikan yang berhasil kita tangkap boleh dibawa pulang. Atau mau menjadi gembala kerbau, lalu memandikannya di sungai. Bisa juga belahar nandur (menanam padi) di sawah dan menumbuk padi menjadi beras di lumpang.

Atau berjalan menjelajahi Desa Pasir Eurih mengunjungi beberapa situ purbakala, menikmati matahari terbit dan terbenam dengan panorama Pegunungan Salak ataupun Kota Bogor.

Yang menyukai kesenian atau kerajinan tangan bisa belajar membuat batik has Sindangbarang, membuat wayang dari daun singkong, mebuat sandal, trompet, dan tentu saja tarian jaipongan. Menurut Ella Raharjao, bagian keungan Kampung Adat sindangbarang, biaya berwisata Rp 30.000 sampai Rp 300.000 per orang, bergantung pada pilihan menginap atau tidak menginap dan hidangan yang dipilih.

Nah, silakan berwisata sambil menambah ilmu sekaligus menambah pengalaman berinteraksi dengan masyarakat dan alam kampung yang unik dan istimewa. [tukang-jalan.com® dari: Kompas Sabtu, 8 Oktober 2016 | Oleh RATIH P SUDARSONO]

Baca juga : belajar sambil lestarikan alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *