METROPOLITAN | KALI BARU

Posted on Posted in JOURNAL

Tukang-Jalan.com® Tahun 1970-an, air jernih mengalir di selokan timur (Oorterslokkan) atau dikenal sebagai Kali Baru Timur saat ini. Batu-batu cadas putih terlihat di dasar kali karena aliran air yang bening.

Sisi kiri dan kanan kali dipagari tanaman kecapi, jamblang, asam jawa, dan kenanga. Ikan gabus, tawes, lele, mas, dan udang air tawar hidup sehat di aliran kali yang mengalir di pinggir jalan Raya Bogor itu.

Anak-anak demen bener nyemplung di kali. Kami biasanya bermain seluncur dari Pondok Gede sampai ke pintu air (Kampung Gedong),” kenang Muhamad Samin (70), warga Gedong Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur, Selasa (9/8).

Air Kali Baru Timur pun menjadi berkah bagi masyarakat yang dilintasi. Bagi warga Gedong, air digunakan untuk mandi, mencuci baju, bahkan untuk air minum. Karena posisi kali cukup dalma, warga membuat tangga berundak dari bamboo.

Air juga digunakan untuk mengairi sawah-sawah yang ditanami padi. Saawah membentang dari daerah Gedong hingga Pasar Induk Kramatjati. Hasil panen melimpah karena pasokan air cukup.

Samin menuturkan, kala itu jalanan di dalam kapung masih berupa tanah. Setiap pagi, kereta pedati dan delman berlalu lalang di jalan tanah yang diapit sawah dan empang. Epdati dan delman biasanya mengarah ke daerah Harmoni dan Jakarta Kota. Saat hujan, jalan berubah menjadi becek, melendut sehingga sulit dilalui.

Suasana asri itu lalu berubah drastic pada 1975. Pabrik-pabrik mulai menyerbu kawasan di sepanjang Jalan Raya Bogor itu. Pabrik menyerap banyak karyawan dari kampung-kampung di Jawa. Laju urbanisasi pun tak terbendung.

Sawah-sawah mulai beralih fungsi menjadi pemukiman warga. Air kali lalu semakin keruh dan menghitam. Pabrik membuang limbah di kali. Warga mengotori aliran kali dengna pipa pembuangan kotoran dan limbah air. Kini, Kali Baru Timur menjadi selokan pembuangan dengan air berwarna cokelat hingga kehitaman.

“Dulu kelihatan banget tuh, airnya kadang berubah menjadi merah, ijo lumut karena pabrik buang limbah ke kali. Sekanga juga masih ada, tetapi enggak sebanyak dulu karena dilarang,” ujar Frans (49), pekerja Penanganan Prasarana dan Saran Umum Pasar Rebo.

Irigasi Sawah

Restu Gunawan dala mbuku Gagalnya Sistem Kanal, Pengendalian Banjir dari Masa ke Masa (Penerbit Buku Kompas, 2010) menyebutkan, tahun 1739, pemerintah colonial Belanda atas perintah Gubernur Jenderal Van Imhoff membuat Oosterslokkan yang berfungsi untuk irigasi dan pengangkutan barang dari pedalaman. Saluran dibuka tahun 1739 dan selesai 14 tahun kemudian, yakni pada 1753.

Upaya memanfaatkan seolokan timur sebagai saran pengangkutan barang gagal karena memerlukan banyak pintu air untuk membendung. Selokan timur juga gagal digunakan sebagai kanal pelayaran karena ada kebocoran yang sulit diatasi. Akhirnya, selokan itu difokuskan untuk irigasi pertanian saja.

Selokan timur memiliki tiga pintu air untuk mengairi sawah di daerah hulu di Ratim, Cibalok, dan Cibanon. Pasokan air di selokan itu juga ditambah dengan pembuatan bending Katulampa di Buitenzorg (Bogor) tahun 1749. Selokan itu juga mengairi sawah seluas 9.075 hektar di tanah-tanah partikelir di sebelah timur Ciliwung.

Tahun 1753, Oorterslokkan diperpanjang sampai ke kanal timur di Weltevreden (Lapangan Banteng), bergabung dengan kanal prapatan lalu dikenal dengan nama Kali Baru.

Restu juga menyebutkan, selokan timur beberapa kali rusak dan membutuhkan biaya besar untuk perbaikan. Lalu tahun 1776, Van Imhoff mengusulkan untuk menggali sebuah kanal lagi dari aliran kali Cisadane utnuk dialirkan ke Kali Ciliwung. Kanal ini kemudian dikenal dengan Westerslokkan atau selokan barat, disebut Kali Baru Barat saat ini.

Kali Baru Barat menghubungkan Kali Cisadane dan Ciliwung dan berada di sebelah utara Bogor. Fungsi selokan barat juga untuk mengairi lahan sawah dan perkebunan di Cilebut, Citayam, Depok, Pondok Cina, Tanjung Barat, dan Pondok Labu. Kini, bagian yang terhubung dengan Kali Ciliwing sudah ditutup.

Hasil panen sawah yang dialiri rata-rata 31 pikul per bahu (setara 0,7 hektar). Di Cilebut, Citayam, Depok, Pondok Cina, Tanjung Barat, dan Pondok Labu hasi padi per bahu antara 15 pikul dan 35 pikul. Sementa di daearh yang dialiri Kali Baru Timur di Cibinong, Tapos, Cilangkap, cimanggis, Cilodong, Tanjung Timur, Kampung Makassar, Cililitan, Cawang, Kemayoran, Gedong Rubuh, dan Kelapa GAding, hasil padi berkisar antara 15 pikul dan 30 pikul per bahu.

Adolf Heuken SJ dalam Atlas Sejarah Jakarta (Yayasan Cipta Loka Caraka, 2014) juga memaparkan, selokan timur digali dari Katulampa sampai Meester (jatinegara) dan mendapat pasokan air tambahan dari Kali Cikeas dan dialirkan hingga ke Kali Sunter. Sementara Westerslokkan atau Selokan Barat dialirkan dari Kali Cisadane, melewati kali cipakancilan, masuk ke selokan barat (Kali Baru Barat), Matraman (Kali Minangkabau), dan masuk ke Kanal Banjir Barat.

Kali Baru Barat dan Kali Baru Timur menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi.

Ragam nama

Mesekipun Kali Baru Barat dan Kali Baru Timur adalah sungai buatan atau tidak alami, kedua saluran ini menjadi bagian dari 13 sungai yang mengalir melintasi ibu kota.

Warga yang bermukim di kanan kiri saluran di daerah perbatasan DKI Jakarta dan Kota Depok umumnya mengenal dan menyebut saluran ini sebagai Kali Baru Timur. Sampai daerah Cijantung, Cililitan, Cawang, bahkan Cipinang, warga di sekitar aliran masih menyebutnya Kali Baru Timur.

Akan tetapi, sampai di daerah Matraman atau Pramuka, warga menyebutnya dengan nama beragam. Warga di kelurahan senen, JakPus, misalnya, ada yang menyebutnya Kali Paseban, Kali Bluntas, Kali Sentiong, atau Kali Murtado. Nama-nama itu mengacu pada nama kampung atau jalan di sekitar saluran. Warga pun tak banyak mengenal tentang sejarah dan fungsi kali tersebut.

Boni Mariyuana (39), warga kelurahan senen, JakPus, misalnya, sama sekali tidak mengenal Kali Baru Timur. Ia menyebut alir Kali Baru Timur itu sebagai Kali Sentiong. Di kawasan ini, aliran Kali Baru Timur memagn akan bertemu dengan Kali Sentiong sebelum masuk ke Kali Sunter.

Warga lain pun tak familiar dengan sebutan Kali Baru Timur. “ini kali apa, ya? Sentiong kalu enggak salah. Sudah asda sejak saya kecil,” ujar Boy yang lahir di kelurahan Senen itu.

Di sepanjang Pasar Rebo, JakTim, kondisi Kali Baru Timur masi hasri dengan turap alami dan beronjong batu kali. Ada jalan inspeksi di sepanjang kali. Tebing kali juga banyak ditanami pohon-pohon hijau. Di sepanjang kali berjajar toko-toko, kios, bengkel, pasar, mal,dan rumah makan.

Sampai di Cililitan, aliran kali menyempit, bahkan mengalir di bawah salah satu pusat perbelanjaan di cililitan. Aliran seolah terputus karena tersembunyi di bawah bangunan Pusat Grosir Cililitan. Di permukiman di belakang pusat perbelanjaan ini, kali “muncul” lagi, seolah bersumber dari tembok mal.

Selain di pusat perbelanjaan itu, aliran Kali Baru Timur tersembunyi di bawah simpang susun Cawang, JakTim. Lebar saluran menyempit selepas tempat penyaringan sampah di sisi selatan simpang Cawang, melalui kolong, dan keluar di sisi utara menuju daerah Cipinang, lalu ke Matraman, Salemba, Johar Baru, hingga ke Kemayoran. Di kemayoran, Kali Baru Timur bertemu denagn kali Sentiong, lalu mengalir ke utara dan bertemu dengan Kali Ancol sebelum lepas ke Laut Jawa.

Kali Baru Timur dan Barat boleh saja disebut sebagai bagian dari 13 sungai. Namun, sejarah mencatat bahawa saluran ini buatan. Banyak rekayasa dan campur tangan manusia dalam mengatur tata air dari hulu ke hilir [*/tukang-jalan.com |dari Kompas, Senin, 26 September 2016 | Oleh  : Mukhamad Kurniawan/Saiful Rijal Yunus]

#Disepanjang bantaran kali Pesanggrahan bagian hulu ditemukan pohon-pohon besar berusia puluhan hingga di atas 100 tahun, seperti di kawasan Cinere, Depok, Jabar, Rabu (24/8).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *