METROPOLITAN | JAKARTA KOTA SUNGAI

Posted on Posted in COMMUNITY, JOURNAL

Tukang-Jalan.com® MATAHARI sudah gencar memancarkan sinarnya, Rabu (27/7), sekitar pukul 10.00, saat perahu-perahu diturunkan dari sisi utara jembatan di Jalan Bandung, Cinere, Depok, yang tepat berbatasan dengan Jaksel. Tim dari Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) dan Kompas dibantu tim dari Hutan Kota Sangga Buana, Karang Tengah, Lebak Bulus, berdoa bersama sebelum menyusuri Pesanggrahan.

Dua perahu dengan masing-masing diisi 6 dan 7 orang mulai mengarungi sungai setelah memastikan semua anggota mengenakan pelampung dan perahu dalam kondisi fitr. Peralatan lain, sepeti dayung, mesin minuman dan makanan ringan, P3K, serta perlengkapan yang dibuatuhkan jika da keruskan mendadak pada perahu atau mesin, dipastikan ada di perahu.

Safety itu yang utama. Ini yang bawa perahu juga sudah pengalaman,” kata Agung dari Humas BBWSCC, kala itu.

Pengelola Hutan Kota Sanggabuana, Chaerudin (59), yang sudah terbiasa menyusuri Pesanggrahan dengan perahu ataupun berjalan kaki menembus bantarannya pun berpesan sama. “Kita berdoa dulu, terus semacam izin sama kali kalau kita mau menyusuri. Ini untuk mengingatkan kita jangan sok-sokan karena bahaya bisa datang kapan pun,” katanya.

BBWSC menurunkan orang-orangnya yang biasa mengoperasikan perahu karet menyusuri sungai. Sementara Chaerudin meminta dua anak buahnya yang sudah mengenal seluk beluk liku Pesanggrahan menemani tim selama pengarungan.

Pengarungan ini bagian dari tugas jurnalistik meliput sungai-sungai di Jakarta, melihat kondisi rilnya dari dekat.

Kanopi

Pertengahan tahun seperti ini memang seharusnya masih musim kemarau. Namun, kali ini hujan masih mengakrabi bulan Juli. Waswas melinnkupi diri karena banjir limpahan dari hulu bisa mendadak datang. Beruntunglah tim dari Babe atau Bang Idin, demikian Chaerudin biasa disapa, cukup mumpuni membaca tanda alam.

“Bagi yang biasa di sungai, terasa kok. Oh, anginnya beda ini. Ditengkuk dinginnya lain. Burung sriti terbang rendah di permukaan kali lalu terbang tinggi lagi. Itu tandanya di hulu hujan deras dan air limpahan dalam beberapa jam bakal datang. Itu harus diperhatikan,” kata Mardi Siswinarko (53) alias Singo.

Singo bergabung di Sangga Buana sejak 2008 dan kemudian mendirikan posko sendiri tak jauh dari Jembatan Jalan Bandung.

Perah 1 menempatkan Singo di ujung depannya utnuk menunjukkan arah yang tepat. Perahu 2 mengekor di belakang perahu 1. “Kita harus membaca arus dan jeram. Tidak bisa asal lurus saja. Nah, kalau tidak terlalu mengenal sungai yang akan diarungi atau waktu surveinya pendek, harus pakai orang setempat yang lebih tahu untuk menunjukkan arah. Selain itu, juga untuk membantu atasi kendala yang tiba-tiba muncul,” lanjut Singo.

Benar saja, belum lima menit selepas dari jalan bandung, perahu dihadang pohon tumbang. Batang pohon melintang dan menahan sampah memenuhi nyaris sepanjang lebar sungai yang mencapai 15 meter-20 meter.

Singo pun memutuskan semua tim turun. Bertahan di cabang-cang pohon dan bersama-sama mengangkat perahu melewati rintangan itu.tiba-tiba, byur..,seorang anggota tim kecebur kesungai. Kakinya tak menyentuh dasar sungai yang sedalam lebih dari 3 meter. Ia sempat panic sebelum akhirnya ditarik anggota tim lain.

Basah kuyup, tapi perasaan lega setelah bisa kembali naik ke dalam perahu. Apalagi perjalanan seterusnya begitu menarik. Sepanjang perjalanan kanan kiri sungai masih ditumbuhi pepohonan tinggi lebat, antara lain pohon gondangdia. Dahan-dahannya mengjangkau tengah kali membentuk kanopi alam.

“Indah ya, Adem,” celetuk seorang anggota tim.

Sayang, pemandangan itu dikotori sekelompok rumah yang menembok dinding kali seenaknya.

Penyusuran berlanjut dan kembali menemukan suasana asri ketika memasuki hutan Kota Sangga Buana. Di aliran sungai melintasi hutan seluas 130-an hektar yagn emncakup wilayah Tangsel, Depok, dan Jakarta ini masih dijumpai kedung-kedung.

“Kedung itu sumber air di dalam sungai. Kedung ini harus dilestarikan. Sungai-sungai sekarang, terlebih yang sudah rusak, dangkal, dan kemudian dikeruk dan dibeton, kedungnya pada hilang. Dinding yang dibeton juga susah menyerap air. Jadi air lewat saja ke hilir,” tutur Babe.

Sungai alami merupakan habitat berbagai makhluk hidup. Sesekali terlihat biawak berenang di sungai ata utengah berjemur di batu-batu di tepi Pesanggrahan. Suara burung terkadang memecah kesunyian selam pengarungan.

Pesanggrahan juga masih menyuguhkan leku jeram yang cukup menantang untuk diarungi. “Dayung kuat…!” instruksi semacam ini dari skipper lazim terdengar agar para penumpang mendayung sekuat tenaga untuk melewati jeram yang dilengkapi pusaran arus dan tonjolan bebatuan.

Demi keselamatan selama perjalanan, selain mengandalkan insting para sahabat sungai seperti Babe dan Singo, informasi dari BMKG terkait cuaca di hulu Pesanggrahan di Puncak, Bogor, Jabar wajib diikuti dan jadi pertimbangan.

Kian terbuka

Istirahat siang ditunaikan di bawah jembatan komplesk Perumahan Serenia Hills. Perjalanan lalu dilanjutkan menuju titik akhir pengarungan hari pertama, yaitu di Tanah Kusir.

Berbeda dengan di etape pertama yang sejuk dengan pepohonan, pada pengarungan siang-sore itu lebih banyak dihadapkan pada badan sungai terbuka. Peohonah yagn tumbuh ditepian kali bukan lagi pohon besar yang telah berusia tua.

Permukiman padat penduduk ada di beberapa titik. Selain itu, mulai teliaht hasil program normalisasi Sungai Pesanggrahan oleh BBWSCC dan Pemprov DKI Jakarta berupa pelebaran kali dilengkapi penurapan dinding serta pembangunan jalan inspeksi.

Dari tengah sungai sembari berperahu, teramati juga betap banyak lahan kosong tepi kali sudah menjadi hak milik perorangan ataupun pihak swasta tertentu. Hal ini terliaht dari papan-papan nama yang sengaja dipasang di atas lahan.

Hingga pengarungan hari kedua, kamis (28/7), sampai mencapai ujung Pesanggrahan yagn berbatasan dengan Cengkareng Drain, jelas diketahui pencaplok bantarean bukan hanya kampung padat kumuh yang identik dengan warga miskin.

Okupasi olhe kompleks apartemen, rumah mewah, hingga sekolah, jgua berbagai usaha warga seperti pemotongan hewan dan pabrik tahu belum tersentuh penertiban.

Di sepanjang perjalanan didapati sungai pun berubah-ubah warnanya. Terkadang coklat muda, coklat tua, hingga buru tua, bahkan hitam. Pipa-pipa pembuangan rumah tangga ataupun usaha warga mengalirkan limbah langsung ke sungai. Bau busuk menyebar.

Penataan kali sepertinya baru sebatas normalisasi kali, tetapi belum menyentuh masalah mendasar seperti pengelolaan limbah yang lebih baik.

Oase

Dari sepanjang 27 km Kali Pesanggrahan yang mengalir di Jakarta, terdapat dua hutan kota yagn cukup menyejukkan jiwa. Hutan kota pertama jelas Sangga Buana. Hutan kota kedua, yaitu Srengseng, juga menjadi tempat persinggahan saat tim Kompas-BBWSCC mengarungi Pesanggrahan.

Hutan Kota Srengseng yagn berada di hilir atau tepatnya di Jakbar dikelola pemerintah melalui  Dinas Kelautan, Pertanian, dan ketahan Pangan (DKPKP) DKI Jakarta.

Kristina Sringo-ringo, penanggung jawab Hutan Kota Srengseng dari DKPKP DKI Jakarta, mengatakan ,seperempat dari lahan hutan kota seluas 15 hektar jadi danau. Selain sebagai tempat wisata dan meancing danu menjadi pengendali banjir jika Pesanggrahan meluap.

Hutan ini didirikan tahu n1995 di lahan bekas tempat pembuangan sampah dan memang difungsikan sebagai ruang terbuka hijua. Terdapat lebih dari 60 jenis pohon di htuan ini yang cukup rindang dan memberi kesejukan. Kendati demikian, kondisi danau  dan fasilitas pendukung memprihatinkan.

Sedimentasi di ddanu Hutan Srengseng tidak berbeda dengan kondisi kali Pesanggrahan, cukup tinggi, penuh dnenga lumpur dan sampah yang mengendap. Salah satu pintu air yang mengatur aliran dari Sungai Pesanggrahan juga rusak. Namun, belum ada pengerukan dan perawatan hingga kini.

Hutan Kota Sangga Buana dan Srengseng adalah paru-paru kota yang tersisa di tepi Pesanggrahan. Sejengkal kawasan yang masih tercium aroma basah tanah dan berembus sejuk semilir angin. Secuil surga yang bisa menjadi titik awal bagi warga mengenal sungai dan ikut andil melestarikannya. [Kompas Sabtu, 3 September 2016 | Oleh Harry Susilo & Neli Triana]

Baca juga : sampah mu,sampah ku, sampah kami.

#Disepanjang bantaran kali Pesanggrahan bagian hulu ditemukan pohon-pohon besar berusia puluhan hingga di atas 100 tahun, seperti di kawasan Cinere, Depok, Jabar, Rabu (24/8).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *