wae-rebo_-4

Harta itu Berupa Cerita Kehidupan

Posted on Posted in JOURNAL, JOURNEY, VACATION

tukang-jalan.com® –   TENTU saja kita, para pelancong yang haus, ingin mencecap cerita sebanyak-banyaknya. Maka kita pertama-tama menentukan piliha, cerita mana yang ingin dibaca terlebih dahulu. Di nusantara , salah satunya, kita punya Flores. Wilayah ini punya banyak obyek wisata kelas dunia. Habitat Komodo, danu tiga warna Kelimutu, kampung adat Wae Rebo dan Bena, tradisi perburuan paus, pantai-pantai elok, serta titik-titik yang bagus selam dan selancar.

Pada 2012, Wae Rebo mendapat Award of Excellence dalam UNESCO Asia-Pacific Awards of Cultural Heritage Conservation. Penghargaan ini menempatkannya pada jajaran tertinggi warisan budaya Nusantara dan Dunia. Selain itu, dalam publikasi buku pariwista terkemuka dunia Lonely Planet, Flores masuk di 10 destinasi wisata terbaik tahun 2015.

Namun, data, cerita, atau foto tak akan pernah memuaskan para pengelana. Persentuhan-persentuhan dengan tempat, budaya, dan lanskap baru pun emseti dialami langsung.

Wae Rebo

Mei 2016. Siang itu, Indra Sukmana (27) bersama beberapa temannya mulai trekking dari pos 1 di Wae Lomba menuju Desa Satar Lenda, Manggarai. Gerimis turun Suhu dingin menembus pori-pori. Perjalanan ta ksemudah dibayangkan. Selain karena tanah lebih licin, ada bagian jalan yang terhalang pohon tumbang.
selain berjalan selama kurang leibh dua jam, mereka kini berada di ketinggian 1.200 mdpl. Tujuan pun tampak sudah. Dusun Waer Rebo. Mbaru Niang, rumah-rumah adat berbentuk kerucut di kampung, itu berdiri gagah diapit bukit-bukit. Atapnya yang tersusun dari rangkaian daun lontar menjuntai ke bawah, hampir menyentuh tanah. Lelah seketika  terbasuh bagaia. Mereka menemukan betapa megahnya kesederhanaan yang kini tampak di depan mata.

Indra bercerita, setiap wisatawan yang datang disambut dengan ritual penyambutan. Warga kampung menghaturkan doa kepada leluhurnya, lantas melakukan upacara pemotongan ayam. “Ritual ini adalah tanda kami sudah ditahbiskan menjadi penduduk lokal. Kami lalu diberi segelas kopi hangat, kopi dari tanah Wae Rebo sendiri,” kata Indra.

Seperti kopi lokal yang pertama kali disesapnya, warga Wae Rebo dirasakan indra begitu hangat. Ia mengobrol dengan seorang ibu yang menumbuk kopi dan bermain bola berasma anak-anak di halaman tengah kampung. Mereka menerima pelancong di rumah mereka sendiri, layaknya keluarga.

Arsitektur Mbaru Niang sendiri adalah cerminan kehidupan warganya yang harmonis, baik dengan lingkungan sekitar maupun sesama. Semua materialnya menggunakan apa yang ada di sekitar, seperti bamboo, kayu worok, ijuk, daun lontar, dan tali rotan. Satu rumah selalu dibangun bersama-sama oleh seluruh warga kampung. Selain wujud semangat gotong royong, hal ini juga cara untuk meneruskan pengetahuan kepada generasi berikutnya.

Semua yang dialaminya di Wae Rebo memberi Indra perspektif baru. “Fasilitas hidup mereka terliaht jauh lebih sederhana dibanding standar hidup orang kota yang biasa saya temui. Mereka makan dengan hasil ladang dan menggunakan pakaian yang ditenun sendiri. Tapi mungking mereka justru leibh kaya,” ungkapnya.

Pesona alam yang mengitari Wae Rebo adalah kemewahan yang tak terbeli. Budaya yang terawatt juga menjadi sesuatu yang tak ternilai. “Saya semakin belajar bersyukur,” tambah Indra.

Menjadi candu

Keinginan untuk terus menjelajah daerah baru juga dirasakan Priscilla Olivia (28), perempuan muda yang beromisili di Jakarta.  “Traveling itu candu,” katanya. Perjalanan selalu memikat karena dengan itu kita bisa bertemu orang-orang baru, merasakan pengalman baru yang sebelumnya tak terbayangkan, sekaligus menjadi ajang mengasah diri beradaptasi dengan lingkungan baru.

Pantai-pantai di Flores meninggalkan memori manis bagi Via, panggilan akrabnya. Oktober tahun lalu, ia menyusuri Ende, Moni, Riung, Bajawa, Ruteng, dan Labuhan Bajo. “Yang paling seru adalah ketiak berenang dengan ikan pari (manta ray). Wkatu itu ada puluhan ikan pari yang lewat, padahal ini jarang banget. Kami punya kesempatan untuk berenang dengan ikan pari di laut lepas. Deg-degan memang, tapi ini pengalaman yang luar biasa!” ujar Via.

Dalam perjalanan itu, Via yang adalah penggemar pantai mengaku tidak berekspektasi banyak ketika mengunjuingi Bajawa, daerah pegunungan. Namun, ia lalu menginap di dekat Gunung Irine dan perpesona karena langit malam begitu jernih. Ia bisa melihat taburan bintang, bahkan Galaksi Bima Sakti.

“Kami juga keliling desa dengan guide asli orang Bajawa dan ernayta keponakanya sedang menikah. Kami pun diajak ke pesta pernikahannya. Kapan lagi melihat pernikahan adat di Bajawa?” Tambahnya.

Kebahagian-kebahagian dari perjalanan itu akan terus membekas meski perjalanannya sendiri telah lewat. Setiap kali melakukan perjalanan, kita bertambah kaya. Bukan karena materi, tetapi karena kita punya lebih banyak cerita, untuk diri sendiri dan untuk orang lain. Untuk dikenang dan untuk dimaknai. [*/tukang-jalan.com® Sumber : KOMPAS, KAMIS, 20 OKTOBER 2016|Oleh : FELLYCIA NOVKA KUARANITA]

Baca juga :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *