Sikdam

SOSOK | Sikdam Hasim Gayo

Posted on Posted in INSPIRED

Berbagi untuk Berarti

tukang-jalan.com® –  DI hadapan 300 penyluh pertanian di Takengon, Aceh Tengah, Senin (20/3). Sikdam bercerita tentang kehidupannya. Sikdam adalah penyandang disabilita, tunatera.

“Sekarang bapak ibu pejamkan mata. Apa yang terlihat? Gelap seperti berada dalam goa. Begitula yang aya rasakan selama tujuh tahun,” ujar Sikdam.

Beberapa detik sunyi. Sikdam membenarkan letak kacamatanya. “Namun, saya bersyukur, kebutaan inilah yang membuat saya lebih berarti,” lanjut Sikdam.

Hari itu, Sikdam diundang ole hPemerintah Kabupaten Aceh Tengah untuk menjadi pembicara tunggal di hadapan para penyuluh pertanian. Pengalaman hidup pemuda berdarah Gayo itu diharapkan dapat menginspirasi penyuluh dalam mendampingi petani.

“Kelebihan bapak ibu sangat banyak. Orang baik, befrpendidikan, dan bisa melihat. Gagal itu pasti, tetapi keberhasilan harus diperjuangkan,” ujar Sikdam.

Sejak beberapa tahun terakhir, dia kerap diundang menjadi pembicara, baik forum di daerah, national, maupun internasional. Ia kini menjadi inspirator dan motivator.

Sikdam lahir pada 5 Juli 1989. Dia menghabiskan masa kecil di Aceh Tengah.  Ayah dan ibunya petani kopi. Ia merupakan anak ke-9 dari 13 bersaudara. Setelah t amat SD, dia melanjutkan pendidikan SMP, SMA, dan kuliah di Jakarta serta tinggal bersama saudaranya.

“Ayah bilang, kalau saya ingin sukses, harus merantau. Waktu kecil, saya mau jadi diplomat, ingin keliling dunia. Makanya saya kuliah di Jurusan Bahasa Inggris,” katanya.

Jatuh dan Bangkit

Namun, tragedy di siang bolong pada akhir 2010 merenggut mimpi yang dirawatnya bertahun-tahun. Saat itu, Sikdam pulang dari mengantarkan surat lamaran kerja dengna menumpang mobil temannya. Mobil mereka kecelakaan saat mengerem mendadak menghindari “polisi tidur”. Kepala Sikdam terbentur langit-langit mobil dan tiba-tiba pandangannya meredup. Ia kehlingan penglihatan. Sebagia memorinya juga hilang.

“Saat tersadar, semua gelap. Aya tidak bisa melihat apa-apa. Saya stress, marah, kecewa, terguncang, dan putus asa. Tuhan tidak adil. Saya berpikir, hidup saya sudah berakhir. Tanpa penglihatan, untuk apa sayahidup,” kisah Sikdam yang didengar oleh para penyuluh dengan khidmat.

Sikdam mengurung diri di kamar. Dia frustasi, kehilangan teman dan cita-cita. Suatu waktu, terlintas di benaknya untuk mengakhiri hidup. Namun, beruntung, saat dia terpuruk, ibunya selalu hadir meneguhkan semangatnya. “Mama saya adalah motivator terbaik. Dia bilang, ‘Kamu harta paling berharga dalam hidup Mama. Kamu special, Sikdam’.”

Sikdam berpikir apa yang bisa dilakukannya untuk mengisi hari-hari agar lebih berarti. Dia ingin berbagi. Ibunya menyarankannya membuka les Bahas Inggris gratis buat anak-anak dari keluarga tak mampu. Saran itu dituruti Sikdam dengan membuka Rumah English Social di Sawangan, Depok, Jabar, pada 2012 hingga kini.

Tanpa penglihatan, Sikdam sedikit pun tidak mengalami kesulitan dalam mengajar. Dia menghafal setiap materi yang diajarkan kepada anak didiknya. Sampai saat ini, Sikdam juga mengajar Bahasa Inggris di SMA Adria Pratama Mulya, Tangerang.

Bela hak disabilitas.

Seusai mengisi forum penyluh pertanian, Sikdam yang didampingi sepupunya, Gilang, berkunjung ke Situs Arkeologi Loyang Mendale di tepi Danau Laut Tawar, Takengon. Saat tinggal di  Takengon, Sikdam sering bermain di danau. “Dulu di sini sangat sejuk, sekarang rasanya panas,” kata Sikdam.

Sikdam ingin mengunjungi tempat penemuan kerangka manusia prasejarah di Loyang Mendale. Namun, tempati itu tidak ramah buat penyandang disabilitas. Jalan ke situs menanjak dan banyak bo0ngkahan tanah keras. “Indonesia memang belum ramah kepada disabilitas. Kami tidak mendapat tempat yagn layak di negara ini,” ujarnya.

Menurut Sikdam, negara masih abai terhadapa hak penyandang disbilitas. Instansi pemerintah tidak menerima pekerja disabilitas. Sekolah umum menolak siswa disabilitas. “Mengapa kami tidak bisa bekerja di tempat yagn kami suka? Bukankah kami juga warga negara Indonesia?”

Untuk membela kaum disabilitas, Sikdam menyuarakannya hingga ke luar negeri. Pada 20132, dai berbicara di Konfrensi Globa Pemuda Penyandang Disabilitas di Kenya. Setahun kemudian, dia memperoleh penghargaan international untuk pemuda dari Pangeran Edward dan berpidato di Inggris. Pada 2015, Sikdam menajdi pembicara di Parlemen Korea Selatan.

“Saya memperjuangkan hak disabilitas. Kami yang dipandang sebagai orang cacat masih punya cita-cita. Kami juga ingin hidup sukses seperti yang lain,” ucapnya. Bersama komunikasi pemuda disabilitas  Indonesia yang didirikannya pada 2013, Sikdam terus bersuara.

Meski merasa negara belum ramah kepada penyandang disabilitas, kecintaan Sikdam pada tanah air tak tergoyahkan. Ia penrha ditawari kewarganegaraan Korea Selatan dan AS. “Teman saya bilang, ‘Di Indonesia kamu tidak dihargai. Lebih baik pindah saja ke sini’. Saya jawab tidak. Indonesia adalah rumah saya,” ujar Sikdam.

Ada ironi dalam perjuangan Sikdam. Dia sering menjadi pembicara di luarnegeri. Namun, dai belum pernah mendapatkan kesempatan berpidatao di Parlemen Indonesia dan di hadapan Presiden. Ia berharap bisa bertemu dengan Presiden untuk menyampaikan suara dan harapan penyandang disabilitas Indonesia.[*/tukang-jalan.com® Sumber : KOMPAS, Selasa, 18 April 2017|Oleh : ZULKARNAINI]

Baca juga :  PEDULI PERTANIAN INDONESIA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *