Mengenang Kebesaran Gowa di Somba Opu

Posted on Posted in EXPLORE, JOURNAL

Tukang-Jalan.com® SIANG itu, seorang pelancong dari Jakarta menggenggam buku tentang wisata Sulsel. Ia kini berada di Pantai Losari, salah satu tempat paling terkenal di Makassar. Dari situ, ia berencana bertolak ke Bengteng Somba Opu.

Sambil menikmati es pisang ijo di warung pinggir pantai, ia bertanya kepada pemilik warung, dari tempat itu, angkutan umum apa yang bsia membawanya ke Benteng Somba Opu. Yang ditanya diam sejenak. “Saya tahunya yang Ke Fort Rotterdam,” ujarnya kemudian.

Bersama kedua temannya, pelancong itu lantas memutuskan untuk menyetop taksi. Ia mengatakan tujuannya kepada sang supir. Mau lihat apa di sana?” Tanya supir taksi ragu, tetapi tetap mengantar para pelancong itu ke Benteng Somba Opu. Dalam perjalanan, supir taksi bercerita, tak banyak wisatawan yang minta diantar ke tempat tersebut.

Taksi itu menju jalan yang sepi, menyeberangi sebuah jembatan tua. Rumput-rumput liar yang tinggi tumbuh subur di kanan kiri jalan. Para pelancong  sedang memasuki komplesk Benteng Somba Opu.

Di bagian depan kompleks, ada Museum Karaeng patingalloang yang berbentuk rumah panggung dengna bendera merah putih dan meriam besi di halaman depannya. Museum ini berisi sejumlah benda peninggalan Kerajaan Gowa, antara lain beberapa tombak, pelatuk senjata api, dan bola pejal yagn terbuat dari besi cor. Di sekitar museum, terdapat pula rumah-rumah adat Sulsel.

Sayangnya, secara keseluruhan tempat ini kelihatan tidak terurus. Jika hanya memandangnya kasat mata, ktia bisa jatuh pada kesimpulan serampangan, daya tarik tempat ini minim. Memagn tak seterpelihara Pantai Losari, Benteng Fort Rotterdam,atau Taman Nasional Bantimurung. Namun, sebagai warisan sejarah, tempat ini sebetulnya begitu kaya.

Nostalgia

Sekitar lima abad yang lalu, somba Opu jauh leibh hidup daripada sekarang. Tempat ini merupaka nibu kota Kerajaan Gowa yagn baru setelah dipindahkan dari Tamalate oleh Raja Gowa IX Tumapa risi Kallona.

Di Omba Opu yagn bersisian dengan muara sungai jebenerang dan berbatasan langsung dengna Selat Makasar, dibangunlah dermaga. Menjadikannya pusat kegitan maritime yang gaungnya tersohor di Nusantara, bahkan sampai ke benua lain. Perdagangan menjadi aktivitas utama. Kapal-kapal asing ,terutama dari Portugis dan Belanda, membongkar-muat rempah-rempah. Di ibu kota kerajaan itu, orang-orang Inggris, Denmark, Spanyol, Arab, dan Melayu mendirikan kantor-kantor perwakilannya untuk kepentingan dagang.

Tak jauh dari dermaga, rakyat Kerajaan Gowa menyusun bata-bata. Raja Tumapa ‘risi’ Kallona hendak mendirikan dewala ata utembok di sekeliling Kertao nSomba Opu. Pemegang tahta selanjtunya, Tunipalngga, memperkuat Somba Opu dengna membaut benteng dan mempersenjatainya dengan meriam.

Masa jaya itu berangsur-angsur surut ketika orang-orang Belanda bermaksud memonopoli  perdagangan rempa hpada awal 1600. Niat tersebut tak mendapat persetujuan dari Kerajaan Gowa. Berpuluh-puluh tahun kedau pihak ini berseteru, sampa ike masa pemerintahan Raja Gowa XVI, Sultan Hasanuddin (1653-1699).

Perang terbuka tak terhindarkan. Puncaknya pada Juni 1669. Rakyat Gowa melawan tentara-tentara Belanda. Gowa kalah. Benteng utama pertahanan di Somba Opu diduduki penuh oleh Belanda, lastas dihancurkan.

Ktia masi hbisa meliaht sisa kekokohan benteng itu dan mebayangkan bagaimana di sana dulu rakyat mempertahankanya dengan semangat menggebu-gebu. Temobk-tembok bata yagn sebagain utuh kini ditumbuhi lumut. Bagian atas atap tumpagn benteng itu telah rusak. Di sungai Jebenerang, kini bukan kapal-kapal besar dengan beerton-ton muatan rempah yang tampak melainkan segelintir perahu nelayan yang akan mulai melaut.

Tidak banyak wisatawan yang  mengunjungi Benteng Somba Opu, seperti yang telah dikatakan supir taksi. Orang-orang yang terlihat di tempat ini lebih banyak petugas museum, penduduk sekitar, atau para remaja yang sekadar ingin mencar itempat teduh sepulang sekolah.

Barangkalai jarak sepanjang lima abad telah memutus rantai ingatan tentang kejayaan Makassar silam. Namun, perjalanan menyusuri jejak-jejak mas lampau itu tetap perlu dilakukan. Agar ktia tak kehilangan pemahaman tentan bangsa. Tentang diri kita sendiri [tukang-jalan | NOV]

Baca juga :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *