melestarikan gambut

KONSERVASI GAMBUT

Posted on Posted in COMMUNITY, JOURNEY

Tukang-jalan.com® – PEMANDANGAN itu bukan karena lingkungannya tercemar. Proses pembentukan lapisan gambut selama ribuan tahun yang menjadikan alamnya jadi berbeda dan unik.

Nuansa liar tampak saat menyusuri hutan rawa berstatus Taman Nasional berbak dan Taman Nasional Sembilang oleh KLHK. Luas total 368.450 ha.

Hampir sepanjang tahun kawasan itu tergenang, membentuk rawa berwarna kelam atau dalam bahasa Melayu disebut gelam. Dalam perjalanan berperahu menyusuri sungai, tampak tanaman nipah, nibung, dan rasau yang berbaris bergantian. Hamparan t anaman ini merupakan pelindung hutan dan pengaman pantai dari intrusi air laut dan badai.

Tanaman-tanaman rawa tersebut berbaris  bagai tak berujung. Tim patrol dan perlindungan harimau sumatera (TPPU), inisiasi lembaga konservasi satwa Zoological Society of London (ZSL), bersama menepikan perahu lalu menyusup ke tengah hutan. Tampak beragam jenis  tanaman keras menjulang tinggi. Ada meranti, jelutung, kempas, hinggai pulai.

Sebagain tanaman bertajuk lebar menjadi tempat bersarang burung dan primate. Lantai hutan yang basah kerap menampakkan jejak-jejak satwa liar.

Salahs seorang anggota TPPU, Allliyas, tiba-tiba berhenti. Matanya mengamati sebuah jejak. “Jejak ini baru berusia dua atau tiga hari terakhir,” ujarnya. Ia memastikan itu jejak harimau Sumatera. Pada kesempatan lain, Alliyas kembali menemukan jejak berbeda yang diperkirakan babi hutan. Kerap pula, katanya, mereka dapati jejak tapir.

Temuan itu menandakan ekosistem  gambut Berbak menjadi ruang hidup hariman dan satwa-satwa dilindungi lainnya. Kondisinya yang relative sulit diakses manusia karena hampir sepanjang tahun lantai hutan itu tergenang menjadi rumah nyaman bagi para satwa liar.

Para penghuni alam Berbak malah seolah terganggu kehadiran mesin kapal motor yang menderu-deru. Perjalanan kami menghabiskan dua jam melintasi Desa Air Itam Laut, Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, menuju kmap di Simpang Malaka di jatung taman nasional.

Menurut Rio Desrinaldi, polisi hutan yang juga tergabung dalam TPPU, ada banyak buaya berlindung di balik permukaan Sungai Air Itam Laut yang kami lintasi. Namun, bisingnya suara perahu mengganggu kenyamanan para satwa. Karena itu, dari atas eprahu, kami hanya dapat menyaksikan seekor buaya muara yang muncul sesaat di permukaan. Sang buaya cepat menyembunyikan dirinya kembali ke bawah air.

Jika ditempuh dengan perahu tanpa mesin, perjalanan menuju Simpang Malaka memakan waktu 12 jam utnuk jara ktempuh 5 km. pilihan kapal motor memang paling efisien. Namun, kebanyakan peneliti yang memasuki kawasan itu justru memilih perahu tanpa mesin agar mereka bisa menyingkap rahasia kehidupan alam liar disana.

Malama hari, buaya-buaya Sinyulong kerap muncul di perairan sekitar kamp. Di bawah pantulan rembulan, suasana tampak dramatis menyaksikan hijaunya mata-mata Sinyulong berkilauan di gelapnya malam.

Pejaga karbon

Riset menunjukkan ekosistem Berbak dan Sembilang sebagai kawasan konservasi hutan rawa yang masih asli. Kawasan itu menarik karena merupakan pertemuan antara hutan rawa gambut dan hutan rawa air tawar yang membentang luas di pesisir timur Sumatera.

Kawasan ini adalah penyimpan karbon di alam. Inisiatif Kabron Berbak pada 2011, yang merupakan kerja sama KKLHK, ZSL, dan Darwin Inisiative, telah membuktikan serapan karbon 45,5 juta ton di ekosistem Berbak (belum termasuk Sembilang). Dalam pasar perdagangan karbon dunia, nilai ekonomisnya bisa mencapai 779 juta dollar AS.

Para peneliti memastikan ekosistem rawa gambut itu berkontribusi terhadap mitigasi perubahan iklim. Selama 30 tahun (2008-2038), jika tanap kerusakan, keberadaan gambut  basanya dapat mencegah pelepasan emisi CO2 sebesar 164 juta ton.

Ancaman terbesar pelepasan karbon terjadi jika rawa-rawa itu mengering akibat pembangunan kanal, kebakaran hutan, penebangan liar, dan eprambahan. Karena itu, ekosistem ini tidak saj dilidungi secara nasional, tetapi juga internasional melalui penetapan lahan basah internasional dalam konvensi RAMSAR (perjanjian international untuk konservasi dan pemanfaatan lahan basah) pada 1992.

Kepala Balai TNBS berharap, kawasan ini tidak hanya menjadi pengaga karbon dan satwa liar, tetapi juga memberi manfaat lebih bagi masyarakat sekitar dan dunia pariwisata. Ribuan burung migrant selama bertahun-tahun rutin menyinggahi peisisr pantai Berbak dan Sembilang. Kehadiran mereka paling ramai pada akhir tahun. Spesies burung yang mendiami taman ini, antara lain trinil-lumpur Aisa (Limnodromus semipalmatus), greenshank (Guttifer psuedototanus), pelican (Pelecanus onocrotalus), dan bangau susu (Mycteria cinerea).

Tentunya, kehadiran beragam jenis burung pantai itu hnaya mungkin dinikmati jika kondisi hutannya tetap terjaga. [tukang-jalan.com® sumber Kompas, Kamis, 13 Oktober 2016 | Oleh : IRMA TAMBUNAN]

Baca juga : belajar sambil lestarikan alam

#Kebakaran, pembalakan, perambahan, dan perburuan satwa dilindung merupakan ancaman terbesar dalam kawasan Taman Nasional Berbak dan Sembilang di batas Jambi-Sumatera Selatan. Polisi hutan setempat tidak memadai untuk mengamankan hutan gambut itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *