GAYA HIDUP|Urban

Posted on Posted in COMMUNITY, INSPIRED

Tukang-jalan.com – KOMPETISI yang digelar Mandiri Sekuritas bekerja sama denan Indonesia Banking School (IBS) membaut tantangan kepda tiap tim untuk emgnembangkan uang senilai Rp 300.000, mencetak keuntungan sebanyak mungkin dengan berjual-beli saham sejak kamis (20/10) pukul 09.00.

Tim Rakkan Pradipta sudah mencoba seluruh strategi yang mereka peroleh dari coaching clinic sehari sebelumnya. Namun, tetap saja mereka lemas melihat pergerakan saham-saham yang diperdagangakan di Bursa Efek Indoensia sore itu. “Dengan uang Rp 300.000 , kami focus membeli saham Central Proteina Prima (CPRO) dan Bumi Resources Mineral (BRMS), karena kami lihat harganya naik-naik terus. Sepertinya baguas utnuk meraup untung,” ujar Maulana.

Pada penutupan sesi pertama pukkul 12.00, harga saham CPRO dan BRMS itu sudah membuat mereka untung. “Tapi begitu sesi dua dimulai pukul 13.00, harga CPRO dan BRMS terus turun. Menjelang tutup, makin enggak bisa ngapa-ngapain udah turuh parah, bikin pusing,” kata Reza dengan tergelak.

Meski rugi, tim Rakkan akhirnya menjadi juara tiga kompetisi itu. Sementar juara pertama dan kedua digondol oleh tim Febryan Kennedy dan tim Avisecenna Ramahanny, yang sebenarnya juga sama-sama meraih  kerugian sepanjang transaksi Kamis itu. Jadi, ketiga tim memenangi kompetisi itu karena meraih kerugian paling sedikit dibanding 17 tim lainnya.

Coordinator Event Mandiri Sekuritas, Ayyi Achmad Hidayah, menturukan, dalam kompetisi ini, mahasiswa benar-benar bermain dengan akun riil  agar kompetisi ini tidak sekadar lomba, tapi juga edukasi. “Kalau akunnya virtual, uang hilang Rp 500 juta, ya, mereka cuek aja. Kalo ini mereka benar-benar berpikir, jadi mau belajar, baca, lama-lama jadi cinta sehingga bisa longterm. Merekaha calon investor BEI di masa depan,” tutur Ayyi.

Investor baru

Sepekan terakhir, Jakarta ramai dengan program deukasi investasi salam. Penyelenggaranya, mulai beragam perusahaan sekuritas, otoritas jasa Keuangan, juga Bursa Efek Indonesia. Rabu (19/10) lalu, misalnya, 65 mahasiswa ramai bermain StockLab, sebuah simulasi berjual-beli saham. Permainan itu digelar dalam acara “Edukasi Saham” yang diselenggarakan di lobi Kanotr Otoritas Jas Keuangan (OJK).

Permainan itu dimainkan berlima dan setiap kelompok bermain didamping seorang mentor. Di ats meja tertata lima kartu bertuliskan saham keungan, saham tambang, reksa dana, saham consumer, dan saham agrikultur. Di bawah setiap kartu terdapat susunan kartu-kartu  lain dalma kondisi tertutup, meniru tak terbatasnya  kemungkinan yan bisa terjadi dip asar saham dalam hitungan pekan, hari, jam, bahkan menit.

Jeffri (21), mahasiswa Jurusan Manajemen Universita Bunda Mulia, Jakarta, menjadi peserta program edukasi saham itu. Jeffri memang cocok mengikuti program trainer for trainer iut, lantaran ia sudah berjual-beli saham di pasar modal, gara-gara tugas kuliahnya. Kampusnay bekerja sama dengna MNC Securities. “Kami dibagi dalma kelompok isinya 10 orang. Saya dipercaya kelompok untuk membeli saham. Kebetulan, modal kami masing-masing Rp 100.000. kebtulah sajam yang saya beli untung Rp 200.000 setelah dua bulan dibeli. Setelah itu saya ketagihan dan mulai main saham sendiri,” kata Jeffri.

Bursa Efek Indonesia (BEI) juga jemput bola mencetak investor baru di bursanya. Selasa dan Rabu lalu, BEI menggelar Indonesia Investment Festival di Gedung BEI. Lalu Jumat, Sabtu, dan Minggu pekan itu, acara yang sam digelar pula di atrium Mall Taman Anggrek. Tak tanggung-tanggung, 22 perusahaan sekuritas tgurut serta, demi mencari investor baru, melanjutkan program panjang  “Ayo Nabung Saham” yang diluncurkan sejak 2015.

Deputi Komisioner Pengawan Pasar Modal I OJK, mengatakan, dominasi pemodal asing BEI-lah yang membuat berbagai pihak terkait gencar berkampanye tentang pasar modal. “Sekarang ini, 64 pemilik saham yang diperdagangkan di BEI adalah pemodal asing. Ini membuat pasar modal kita gampang goyang. Kalau The Fed menaikkan suku bunga, misalnya, para pemain asing ini akan jual saham dang anti beli dollar. Uangnya mengalir ke sana. Akibatnya, kurs dollar AS bakal naik dan perusahaan dalam negeri yang repot,” kata Sarjito.

Jumlah pemodal BEI sebenarnya sudah bertambah lebih dari 30% dalam 16 bulan terakhir, dari 389.000 pad Juli 2015 menjadi 515.204 pemodal per Oktober 2016. Namun, jumlah itu pun baru berkisar 0,2% dari 250 juta lebih penduduk Indonesia. Maka bukan Cuma edukasi yang digenjot untuk menambah pemain di bursa.

Para pengambil kebijakan pun merombak aturan dmei membuka gerbang pasar modal lebar-lebar. Dulu, untuk membeli saham seharga Rp 14.000 per lembar, misalnya, investor harus merogoh kocek Rp 7 juta, karena harus membveli 1 lot yang terdiri dari  500 lembar sekaligus. Karena sataun lot diturunkan menjadi 100 lembar per lot, untuk membeli saham yang sama investor cukup merogoh  uang Rp 1,4 juta. Otoritas saham dan keuangan sudah bekerja sama dengn Dewan Syariah Nasional, mengelompokkan emiten-emiten yang memenuhi criteria “saham syariah”. Semua demi menjaring pemodal baru di BEI.

Jhon Vtel dari Junior Trader Club menyebut kebijakan pengubahan satuan lot menjadi 100 lembar saham per lot itu membuat BEI sangat likuid dan menguntungkan para investornya. “Likuiditas dari perubahan satuan lot itu bertemu dengna kemudahan bertransaksi melalui gawai, menjadi dua factor utama yang mendorong bertambahnya pemodal baru di BEI. Edukasi yang semakin gencar dan daya beli masyarakat jadi factor lainnya. Karena baru mencakup 0,2% dari total jumlah penduduk, potensi pertambahan investor masih sangat besar dan perlu,” kata Jhon.

Sekuritas berlomba

Maka, perusahaan sekuritas pun saling berlomba merayu siapa pun menjadi investor baru di pasar modal. Sejak masih berjudl E-Trading, perusahaan sekuritas yagn kini bersama Daewoo Securities Indonesia focus menggarap online trading. Kini pun mereka terus memperbarui layanan “Home Online Trading System” untuk computer maupun gawai nasabahnya.

Kepala pemasaran dan pelayanan online Daewoo Securities Indonesia menyebut jumlah nasabah yang bertransaksi  melalui gawai tumbuh 10-20% per tahun. “Untuk nilai investasi awal, kami tetap menyarankan  Rp 10 juta, agar investor mudah bertransaksi. Setelah mereka merasakan keuntungan berinvestasi saham, nilai itu bakal terus mereka tambah,” kata Randy.

Sejak serius menggarap nasbah ritel pada 2011 Mandiri Sekuritas juga sukses menggaet 55.000 nasabah. Mandiri Sekuritas menawarkan fasilitas pembukaan rekening efek “murah-meriah”, Rp 2 juta bagi calon investor umum. Bahkan, mahasiswa yang menjadi calon investornya bisa membuka rekeingin efek dengan Rp 500.000.

Bahana Sekurities yang piawai menjaring nasabah kelas kakap pun menggaet investor ritel, antara lain dengan kemudahan nilai investasi awal rp 5 juta bagi calon nasabahnya. “Pada 2010, nasabah Bahana berkisar 700, didominasi nasbah besar. Kini, jumlahnya naik menjadi 16.000 nasabah. Kami memberikan program edukasi dan sosialiasasi serta pemahaman akan pentingnya disiplin dalma bverinvestasi. Kami ingin semua nasabah kami, termasuk nasabah ritel, menjadi investor “kelas paus” kata Direktur Utama Bahana Securities.

Tak terhindarkan, lonjakan jumlah pemodal baru di bursa saham itu semakin menggerek perputaran jual-beli saham, maupun frekuensi transaksinya. Apalagi, nasabah berkantong cekak cenderung agresiff berjual-beli saham, menjadi spekulan-spekulan, karena sulit memburu saham-saham mapan yang umumnya berharga mahal.

Namun, Jhon menyebut, seagresif apa pun spekulan dalam negeri tetaplah menguntungkan bagi likuiditas BEI. “Bagaimanapun, para pemain besar membutuhkan ‘lawan-tanding’ untuk menggerakan bursa. Asal itu spekulan dalam negeri, tidak akan masalah, karena uangnya bergerak di Indonesia. Tentu saja, para investor baruj yang cenderung menjadi spekulan harus terus belajar untuk bisa berinvestasi secara aman, berjual-beli saham atas dasar informasi dan pengetahunan yang memadai,” kata Jhon.

Tentu saja, masih butuh proses panjang untuk membuat investasi saham membumi di kalangan seluruh rakyat Indonesia. Namun, dengan segala kemudahan dan potensi keuntungan (berikut ancaman resiko rugi), bukan tidak mungkin investasi saham semakin menjadi pilihan untuk mengembangkan asset [*/tukang-jalan.com dari kompas,Minggu 23 Oktober 2016 | Oleh ; JOICE TAURIS SANTI/WISNU DEWABRATA/DWI AS SETIA NINGSIH/SRI REJEKI/ARYO WISANGGENI G].

#Pameran investival yang digelar di Mal Taman Anggrek, Jakarta ini menjadi salah satu ajang bagi para calon investor saham untuk melirik beragam produk investasi yang ditawarkan perusahaan manajemen .investasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *