rumah-tradisional-batuan

RUANG&DESAIN | MATRA

Posted on Posted in blog, JOURNEY, PERJALANAN, RENDEVOUZ

rumah-desaTukang-Jalan.com® NUANSA yang paradox itulah hantu paling menakutkan yang mendera I Wayan Sudiantara. Sejak remaja ia sudah terbiasa hidup di kota, dan bahkan memasuki pergaulan internasional dengan menjadi pemandu wisata di Denpasar. Dulu ia jadi pemandu para turis Perancis dan Jerman. Rumahnya di Banjar Baru, Desa Baru, Kecamatan Marga, Tabanan, ia tinggalkan. Begitu juga dengan saudara-saudaranya. Hidup di kota seperti Denpasar, jauh lebih menjanjikan ketimbang bergelimang kesepian di kampung halaman.

Sampai kemudian Sudiantara memutuskan pulang kampung thaun 2011, lebih dari 23 0rang saudaranya tetap merantau ke berbagai kota. “Praktis rumah keluarga kesepian, kosong. Hanya ramai saat liburan hari raya,” kata Sudiantara, beberapa pekan lalu di Marga, Tabanan.

Ada dalil, kesepianlah yang membangkitkan kreativitas. Sudiantara membangun rumah Desa dari puing-puing rumah yang ditinggalkan. “Prinsipnya, kalau dulu saya yang mengajak turis ke mana-mana. Sekarang biar mereka yang singgah di kampung halaman saya,” katanya.

Menjalankan prinsip itu tidak mudah. Stigma terhadap desa yang terpencil dan bodoh, harus dilawan dengan prinsip baru: desa sumber dari segala kenikmatan masyarakat perkotaan.

Caranya Sudiantara mengeksplorasi romantisme desa dengan menambahkan pengetahuan serta prinsip-prinsip hidup masyarakat Bali. Ia tidak “menjual” lokasi, sebagaimana destinasi wisata lain, tetapi “mengajarkan” prinsip-prinsip hidup yang membuat Bali selama ini istimewa. “Prinsip-prinsip hidup yang membuat Bali selama ini istimewa. “Prinsip-prinsip itulah daily life, yang selalu ingin diketahui turis. Selama ini mereka Cuma melihat wujud fisiknya saja. Di Rumah Desa saya ajarkan,” kata Sudiantara.

Komodifikasi

rumah-desa1Sudiantara membiarkan seluruh bangunan sebagaimana adanya saat ditinggalkan para saudranya yang merantau. Namun, ia membenahi prinsip penataan ruang dan bangunan berdasarkan filosofi Tri Hita Karana. Ruang-ruang ditata dengan zona parahyangan, pawongan, dan palemahan. Parahyangan zona suci, di mana tempat manusia menghubungkan diri dengan Sang Pencipta. Lalu pawongan, berupa rumah-rumah hunian di mana orang-orang saling berkomunikasi, serta palemahan, tempat manusia hidup harmoni bersama alam sekitar. “Prinsip penataan ruang ini sekarang Cuma mungkin dilakukan di desa, di kota sudah terlalu banyak bangunan,” kata I Made Mendra Astawa, marketing Rumah Desa.

Sudiantara membangun beberapa bangunan untuk menyesuaikan dengan prinsip Tri Hita karana, tetapi diberi fungsi baru. Ia membangun bale daja, sebagai rumah hunian orangtua. Namun, pada praktiknya, rumah ini menjadi tempat menginap para tetamunya dari berbagai belahan dunia. Begitu pun dengan bale dauh dan bale delodan. Bale delodan bahkan berupa pendopo, dimana para pengunjung Rumah Desa bisa memasak bersama.

Di pendopo itu seorang chef, I Wayan Muliarta, siap membimbing pengunjung utnuk memasak beragam masakan Bali. Pagi tiu ,kami rombongan muhibah kebudayaan jejak Mahakarya Indonesia 2016, memasak sate lilit, sate ayam bumbu bali, dan tum ayam. Secara prinsip masakan Bali memiliki bumbu dasar yang disebut basa genep, racikan bumbu lengkap yang merangkum beragam rempah .bumbu dadar ini kemudian dikembangkan untuk beragam menu tadi.

rumah-desa3Kesibukan tidak hanya dimulai ketika mengupas dan mengiris bawang, tetapi juga saat-saat menumbuk bumbu. Dalam pesta-pesta adat, racikan bumbu Bali selalu ditumbuk karena jumlahnya yang banyak. “Biasanya yang memasak dan menumbuk bumbu dalam pesta adat pasti lelaki, karena ini dianggap kerja berat,” kata Muliarta.

Memasak hanyalah satu dari berbagai aktivitas yang bisa dilakukan di Rumah Desa. Para turis juga diajak ke persawahan keluarga yang membentang seluas 1 hektar. Saban kali par turis diajak membajak sawah dan menanam padai. “Ini terlihat sederana, mudah dijumpai di mana saja. Namun, dalam menananm padai saya bisa ceritakan tentang system subak, yang sudah memperoleh penghargaan dari UNESCO,” ujar Sudiantara.

Lebih dari itu di Rumah Desa, para pengunjung juga diberi informasi tentan sitem penanggalan Bali kuno. Sebelum dikenal kalender Masehi. Sudiantara menunjukkna kelender berupa papan yang disebut tika. Ia juga memperlihatkan cara penggunaan kalender bundar serta menulis huruf Bali di atas daun lontar.

rumah-desa2Kini setiap hari Rumah Desa dikunjungi setidaknya 20-30 orang. Beberapa sekolah dari Singapura, Thailand, dan Myanmar bahkan menjadi pengunjung tetap. “Mereka life in di sini, ingin mengenal lebih dalam cara hidup orang Bali sehari-hari,” kata Mendra.

Apa yang diajarkan Sudiantara di Rumah Desa menjadi seksi, karena dikemas dala msatu runtutan peristiwa yang menantang rasa ingin tahu. Ia berhasil melakukan komodifikasi kultur Bali tanpa ad yang merasa “terjual” atau bahkan dirugikan. Bukankah sejak tahun 1970-an Bali sudah mengikrarkan dengan filosofi parwisata budaya? Kini ketika banya klokasi berubah menjadi destinasi wisata yang dibanjiri wisatawan, Rumah Desa mengajak orang-orang pulang ke desa; membangun desa dengan potensi yang dimilikinya.

[*/tukang-jalan.com disalin dari KOMPAS, MINGGU 18 SEPTEMBER 2016 |OLEH: PUTU FAJAR ARCANA]

Baca juga : wajah imogiri dalam radius 20 km

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *