INDEKS PARIWISATA

Pulau dodola di Morotai, Maluku Utara, Sabtu (16/7). Saat air laut surut, pulau dodola tersambung dan bisa dilalui manusia


Kompas/Lucky Pransiska (UKI)

PULAU SIBERUT SURGA WISATA YANG TERLUPAKAN

Posted on Posted in blog, PERJALANAN

pesona-nusantara-morotai-1Tukang-jalan.com  [Kompas SENIN, 15 AGUSTUS 2011 | INGKI RINALDI]-SETELAH menyepakati harga sewa kapal berikut bahan bakarnya, seorang wisatawan asal Perancis meminta bantuan Masril dan anaknya. Wisatawan itu kesulitan berkomunikasi dengan petuas servis computer di kota Padang yang tengah memperbaiki computer jinjingnya.

“Tolong tanyakan, berapa biaya servisnya. Kalau terlalu mahal, saya tidak jadi membetulkan computer itu,” kata wisatawan itu dalam bahasa Inggris.

Namun, bukan perkara mudah pula bagi Masril dan anaknya mengabulkan permintaan itu. Pasalnya, kemampuan bahasa Inggris yang dimiliki para pemandu atau operator wisata local ,termasuk Masril dan anaknya, juga hanya sekadarnya.

Akhirnya, setelah sekitar setengah jam dan beberapa kali sambungan telelpon ke toko dimaskud di Padang, urusan itu selesai juga. Bukan hanya kelemahan soal bahasa, persoalan lain di Pulau Siberut adalah relative tidak adanya informasi yang bisa diketahui dengna mudah oleh para wisatawan.

Bahkan, ketiadaan informasi soal lokasi dan layanan wisata yang bisa didapatkan itu terjadi sejak di Padang hingga ke Mentawai. Seorang peselancar  asal Australia, David Venderleeden, mengatakan, ia terpaksa bertahan di Padang selama dua hari hanya untuk mencari informasi soal itu.

“Tidak ada orang di Padang yang mengetahui informasi tempat main selancar di Mentawai. Saya tahu soal mentawai dari teman dan dari internet, tetapi itu masih informasi yang sangat umum,” katanya saat ditemui di Siberut, Mentawai.

Sementara di Pulau Siberut, tak ada kantor resmi yang bisas menyajikan informasi lengkap mengenai kepariwisataan di daerah itu. Satu-satunya andalan informasi bagi para pengunjung ialah sejumlah operator wisata local.

Hanya ada reklame tak terawatt terkait dengan promosi wisata daerah itu saat memasuki Desa Muara Siberut. Pada papan reklame yang telah dipenuhi karat itu tampak tulisan “Welcome to Siberut Island: Native live, Jungle Forest, Water World Surf.”

Entah apa maksud reklame yang tiangnya sudah mau roboh itu karena tidak ada tempat yang bisa didatangi untuk memperoleh informasi rinci seperti ditulis dalam reklame tadi. Padahal, Pulau Siberut sebagai salah satu gugusan kepulauan utama selain Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara, dan Pulau Pagai Selatan menyimpan potensi wisata yang besar. Sejumlah lokasi dengan ombak menantang sudah menjadi semacam tempat wajib bagi peselancar dari berbagai penjuru.

Kapal-kapal kayu yang didesain khusus menjadi alat transportasi utama mengantarkan para peselancar. Setidaknya ada tiga produsen kapal kayu di Desa Muara Siberut yang memproduksi kapal-kapal ukuran panjang hingga 12 meter dengan lebar 1,5 meter. “Kapal yang bisa memuat hingga 15 orang ini bisa diselesaikan hingga tiga unit dalam sebulan,” kata Erdin Muzarni (54), salah seorang pembuat kapal.

Adapun waktu yang diidamkan untuk berselancar itu setidaknya dimulai sejak Juni hingga November setiap tahun. Sejumlah lokasi ideal untuk berselancar itu dinamakan sesuai jenis ombaknya ole hpeselancar eprtama yang menemukannya.

Beberapa titik untuk berselancar di Kepulauan Siberut yang terkenal adalah E-Bay, Pit Stop, No Kandui, Rifles, dan Hideaways. Selain berselancar, Pulau Siberut juga maish kaya dengna keragaman budaya asli maysarakat adatnya.

Sepanjang 1969-2008, di pulau Siberut setidaknya ada tujuh perusahaan pemegang hask pengusahaan hutan (HPH) dan enam perusahaan pemegang izin pengusahaan kayu (IPK) yang beroperasi. Berdasarkan catatan Kompas, Kementerian Kehutanan terakhir kali mengeluarkan izin HPH di kawasn cagar biosfer Siberut Utara kepada PT Salaki Summa Sejahtera dengan luas sekitar 49.000 hektar, sekita 4,000 hektar di antaranya adalah cagar biosfer.

pesona-nusantara-morotai-2Berdasarkan data Yayasan Citra Mandiri Mentawai, konsesi HPH itu akan diberika nutnuk masa 2008-2052 dan selama periode pengambilan kayu sejak 1969 itu, 200.000 hektar lahan dari luas Pulau Siberut yang mencapai 403.300 hektar habis diambil kayunya.

Dari total laus Pulau Siberut itu, 190.500 hektar ditetapkan sebagai Taman Nasional Siberut. Sementara 74.450 hektar merupakan hutan konservasi, 42.050 hektar hutan produksi terbatas, dan 95.900 hektar huta produksi tanpa ada garis batas yang jelas.

Pelaksana tuga Sekretaris Daerah Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai Faisal Syarif saat dihubungi dari Padang, Minggu (5/6), mengatakan, kunjungan ke Mentawai biasanya dilakukan wisatawan mancanegara untuk berselancar. “Jadi, mereka datang tergantung musim ombak,” kata Faisal.

Dia menambahkan, sejauh ini terlah dilaksanakan sejumlah kegiatan untuk meningkatkan kunjungan wisata ke Mentawai, di antaranya Penganugarahan Gelar Duta Wisata Silainge-Siokko di Tuapejat, PUlau Sipora, 30 Mei-4 Juni lalu. Selain itu, pada 22-26 Juni juga digelar Kejuaraan International Selancar di Mentawai.

baca juga :  pulau terluar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *