ballangge

PESONA NUSANTARA

Posted on Posted in blog

 “Ballangge” yang Menyatukan dan Melestarikan

menikmati suasana hutan rakyat yang gelap, dingin dan ditumbuhi pohon-pohon durian
menikmati suasana hutan rakyat yang gelap, dingin dan ditumbuhi pohon-pohon durian

TUKANG-JALAN.com   –   HUTAN  rakyat yang gelap, dingin dan ditumbuhi pohon-pohon durian tinggi menjulang menanti di depannya. Setelah memastikan semua yang dibutuhkannya siap, Edi menyalakan senter yang terpasang di kepalanya. Dengan pelan dan hati-hati , dia berjalan menyusuri jalan setapak di antara pohon-pohon durian. Suara gesekan terdengar saat sepatu bot hitamnya menyentuh rerumputan.

Tak sampai 10 menit berjalan, teriakan kembali terdengar, kali ini lebih jelas dan ramai. Sorot lampu juga terlihat di mana-mana. “Teriakan itu tanda balangge dimulai. Adapun cahaya-cahaya itu berasal dari senter milik warga tau pelangge yang mulai datang menyerbu kebun-kebun durian di sini,” kata Edi sambil terus melangkah.

Begitu tiba di satu poho durian berusia 60 tahun, Edi berhenti. Senter langsung diarahkan ke bawah pohon. Sebuah durian matang berukuran besar berwarna kuning terlihat diantara semak. Edi memungutnya dengan semangat kemudian memasukkannya kedalam sarung yang dijadikannya tas.

“Jangan lama-lama di bawah pohon. Karena bisa saja, dalam hitungan detik, durian yang lain jatuh,” kata Edi kepada Kompas.

Buk! Benar saja. Suara khas durian yang jatuh menyentuh tanah huta nterdengar dari pohon lain yang berada di sekitar sepuluh meter dar itempat Edi berdiri. Dia pun bergegas pindah ke phohon durian yagn baru menjatuhkan buahnya.

Sekitar lima meter dari lokasi pohon yang ditujunya, Edi berhenti. Bukan karena dia kelelahan, melainkan setelah mengetahui dirinya terlambat. Di bawah pohon yang ditujunya cahaya senter warga lain terlihat. Edi pun urung memungut buah itu.

“Ayo cari tempat lain. Masih ada ratusan  pohon durian lain menanti. Semoga pagi ini kita bisa dapat banyak,” ajak Edi.

Pagi itu, selma satu jam, yakni dari pukul 05.00 hingga 06.00, Edi bersama warga lain di Nagari Koto Malintang di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, menggelar balangge atau berburu durian jatuh. Lokasinya adalah hutan rakyat dengan kebu hdurian seluas 450 hektar di kawasan hutan Koto Malintang. Kebuh itu bukan kebun liar, melainakan milik warga. Namun, saat jam balangge, kebun durian dan buahnya yang jatuh menjadi milik bersama.

Baik yang punya kebun durian maupun tidak, boleh ambil bagian. Edi pun demikian. Edi memiliki dua hektar kebu hdurian, dan pada malam itu ia tinggal di saung untuk menjaga kebunnya, hingga jam balangge dimulai, Edi masih bisa mengumpulkan durian yagn jatuh di kebunnya utnuk dirinya sendiri.

Kebun durian tersebut hanay berada satu kilometer dari perkampungna wara. Namun, utnuk menuju ke sana tidaklah mudah. Apalagi, dengan udara dingin bukit barisan yang mengelilingi kawasan itu. Mengenakan jaket atau menyelimuti diri dengan sarung pun tak cukup. Satu-satunya penghangat adalah perjalanan menuju kebun.

Perjalanan ke kebun tidak muadh karena jalur yang dilewati buka njalan mulus. Jalan yang dilalui berupa jalan setapak yagn menuki dan sepanjang sisi kiri dan kanannya ditumbuhi pohon kakao atau cokelat, pohon durian, dan semak belukar. Jalan setapak itu pun berbagtu, basah, dan licin. Sesekali, kita harus melompati batang kayu yang rebah atau akar pohon yang melintang. Perlu hati-hati agar kita tidak terjatuh.

“Tapi, di situlah kenikmatannya. Demi ikut balangge yagn sudah dikenalkan kepada kami sejak saya kecil, jalur yang cukup susah itu tidak jadi masalah. Semua terbayar terutam jika bisa mengumpulkan banyak durian,” kata Yasril (40), warga lainnya.

Balangge adalah tradisi yang diwariskan dan dijaga secara turun menurun di Koto Malintang. Tradisi itu telah berusia ratusan tahun sejak nenek moyang masyarakat Koto Malintang masih tinggal di hutan dan blum turuh ke kawasan  Danau Maninjau. Sebelum sebagian besar masyarakat Koto Malintang menggantungkan hidup pada karamba jaring apung sejak tahun 1980-an mereka hidup dari hasil hutan.

Menyatukan Masyarakat

ballanggeMenurut Edi yagn juga salah atu pemangku adat Koto Malintang, tradisi in iterus dijaga karena berhasil menyatukan semua lapisan masyarakat. Tradisi ini berangkat dari filosofi bahwa semau orang berhak menikmati anugerah Tuhan, termasuk durian. Oleh karena itu, mereka yang tidak memiliki durian tetap bisa menikmati buah durian dari kebun warga lainnya.

“Suami saya yang sering ikut. Kalau saya biasa menunggu di rumah. Kami sekeluarga memang tidak punya kebun durian. Jadi, keberadaan tradisi ini membuat kami ikut mendapat rezeki. Hal itu karena selain dinikmati sendiri, sebagian lagi untuk dijual,” kata Sri Rahayu (40), yang dalam sehari bisa mendapat Rp.400.000 dari berjualan durian hasil balangge.

Eratnya kebersamaan juga terlihat begitu balangge usai. Pemilik kebun akan dengan senang hati memberikan beberapa buah durian ke warga yang ikut balangge, tetapi tidak berhasil mendapatkan durian di kebun. Kadang-kadang, selesai balangge, warga tidak langsung pulang. Mereka biasanya berkumpul dan mengobrol di saung bersama pemilik kebun sambil mencicipi durian.

Sebagai kearifan lokal, balangge tak sekadar mencari durian jatuh: Dalam pelaksanaanya, ada ketentuan  yang disepakati bersama dan tak boleh dilanggar. Selain ketentuan soal lama balangge berlangsung, para pelangge (sebutan untuk warga peserta balangge) juga dilarang mengambil buah durian di saung atau yang sudah dikumpulkan pemilik kebun. Adapun pemilik kebun dilarang memanjat dan memetik durian miliknya. Pohon durian baru boleh dipanjat bika berbuah banyak, tetapi matang terlalu lama.

Jika ketentuan tersebut dilanggar, warga akan didenda. Misalnya, menyerahkan semen lima zak untuk pembangunan di jorong atau kampung mereka. Adapun bagi pemilik, jiak melanggar, pohon duriannya akan digalang atau dicacah batangnya kemudian diracun dengan cara menaburi batang yang sudah dilukai tersebut dengan obat-obat yang berefek mematikan pohon, sebagai sanksi.

“Aturan-aturan itu memang tidak tertulis, tetapi membuat tradisi ini bertahan. Semua orang, baik pemilik kebun maupun warga, sadar betul bahwa kebun durian itu harus dijaga karena telah memberikan manfaat selama ratusan tahun. Melanggar aturan mungkin satu hal lain, tetapi kehilangan hutan rakyat bahkan seterusnya hutan lindung yang berada di hulu nagari kami akan jauh berdampak buruk,” kata Walinagari Nagari Koto Malintang Nazirudin.

Balangge memang menjadi sebuah mekanisme yang dibuat masyarakat untuk mendapat manfaat dari parak atau hutan rakyat secara bersama-sama. Di sisi lain, tradisi tersebut juga berkatian dengan kelestarian hutan.

Manager Advokasi dan Kebijakan Komunikasi Konservasi Indonesia Warung Informasi  Konservasi (KKI Warsi) Padang Rhainal Daus mengatakan, berdasarkan catatan fasilitasi yang pernah mereka lakukan di Koto Malingtang, balangge sukse membatsi pembukaan hutan untuk kebun durian baru. Artinya, tradisi ini menghilangkan kecemburuan sosial dari warga yang tidak memiliki kebun durian sehingga mereka tidak berpikir untuk membuka hutan agar punya kebun sendiri.

Balangge adalah sebuah strategi lokal yang memaksimalkan pemanfaatan hutan rakyat untuk menjaga kawasan hulu. Dengan begitu, tata ruang nagari yang telah disepakati masyarakat Kota Malintang sejak dulu, yakni hutan lindung di bagian hulu, kemudian dilanjutkan dengan parak, permukiman, kebun tanaman kebutuhan harian, sawah, hingga danau tetap terjaga,” kata Rhainal. [Sumber : KOMPAS, SABTU, 19 SEPTEMBER 2015,  oleh ISMAIL ZAKARIA |gambar diambil dari Google]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *