010615_JelajahPapua_4x270mmkfc_reguler

JELAJAH SEPEDA FLORES-TIMOR 13-23 AGUSTUS ‘16

Posted on Posted in blog

SEMAKIN jauh kita bersepeda, sebetulnya semakin dalam kita memahami hakikat hidup . Setiap kali kita menghadapi jalan tanjakkan, maka setelah itu pasti ada turunan dan tanjakkan lagi. Begitu pula dengan siklus kehidupan. Maka, di sini kita dilatih untuk selalu lapang dada, bersabar, rendah hati, dan selalu bercermin diri,” kata Djoko Edi Santoso (60), pesepeda asal Jakarta, yagn eprnah bersepeda dari Sabang ke Jakarta tahun 2015 dan Surabaya-jakarta tahun 2014.

Mark winkel (56), warga Negara AS yang sudah 20 tahun tinggal dan bekerja di Jakarta, mengaku lebih menyenangi bersepeda cepat. Namun dalam beberapa tahun terakhir, ia lebih menyukai bersepeda jarak jauh. “Saya lebih suka mulai bersepeda di tempat tertentu dan berakhir di tempat berbeda.

Rasanya seperti meraih sesuatu yang lebih karena telah menempuh jarak yang jauh,” ujar Mark. Ia sering bersepeda di Bali, sumatera Barat, dan Jakarta.

Lain lagi dengna Miftaful Huda (43), pegawai negeri yang juga tinggal di Jakarta. Dia menilai kebugaran hanyalah bonus dari bersepeda jarak jauh. Hal paling utama adalah mengenali keindahan alam dan budaya masyarakat lokal lebih dekat.

Perjalnan bersepeda jarak jauh berkembang menjadi salahs atu upaya merajut Nusantara. Mellihat Nusantara dari sepeda diyakini membaut orang meras lebih dekat menganla segala kelebihan, keunggulan, dan keterbatasan suatu wilayah.

Jelajah sepeda merupakan perjalan bersepeda jarak jauh yang dilakukan Kompas, melibatkan pra pesepeda mengelilingi Nusantara. Kegiatan yagn dimulai sejak 2008 itu sudah melewati sebagian wilayah Negara ini. Tahun 2016, jelajah sepeda berlangsung di Pulau Flores dan Timor.

Ironi Kemiskinan

kemiskinanFlores dan Timor adalah dua dari tiga pulau besar di NTT. Selama ini, NTT selalu diidentikan dengan keterbelakangan dan kemiskian. Hingga 2015, misalnya, penduduk miskin masih 1.165.530 orang. Bahkan, indeks Pembangunan Manusia NTT hanya 68,77 atau berada di urutan ke-32 dari 34 provinsi.

Mutu pendidikan daerah ini teroglong memprihatinkan. Hasil kelulusan ujuan nasional, misalnya, NTT berada di urutan ke-29 dari 34 provinsi. Kondisi ini seolah menihilkan segala prestasi yang pernah diukir sejumlah putra NTT di kancah nasional maupun international. Sebut saja mantan Menteri Keuangan Frans Seda,ahli bahas Indonesia gorys Keraf, mantan Rektor UGM Prof Dr herman Johannes, wartawan kawakan Valens Doy, mantan Gubernur BI Adrianus Mooy, dan budaywan Ignas Kleden.

Sebagai wilayah kepulauan, NTT sangat kaya dengan hasil laut. Apalagi didukung delapan bulan musim kemarau. Namun, selam ini, warga NTT cenderung membelakangi laut. Terbukti, yang menjadi nelayan hanya 101.522 orang dai 5,1 juta jumlah penduduk NTT.

Terlepas dari itu, pesona alam dan tradisi masyarakat di NTT telah membius warga dunia. Mereka berdatangan untuk melihat dari dekat segala keunikan itu. Sebut saja komodo, pesona bawah laut dan pesisir di Labuan Bajo dan sekitarnya, rumah adat Waerebo, rumah tradisional Bena di Bajawa, sawah laba-laba di Manggarai, danau tiga warna Kelimutu, Pantai Koka di Sikka, dan panorama 17 pulau di Riung Nagekeo.

Dari sisi budaya NTT termasuk daerah kaya tradisi . ada 60 bahasa daerah dan setiap daerah memiliki tradisi menenun dengan motif, corak, dan warna dasar yang berlainan. Semua itu mencerminkan tradisi, adat isitiadat, dan nilai sosial. Keberagaman ini tidak terlepas dari perpaduan budaya Melanesia, Melayu, dan Portugis yang berkembang di wilayah itu.

Jelajah Sepeda

jsft-1Harian Kompas memilih cara berbeda untuk mengajak masyarakat mengunjungi NTT melalui perjalanan bersepeda jarah jauh.

Acara bernama Jelajah Sepeda Flores-Timor ini berlangsung 13-23 Agustus 2016 dari Labuan Bajo hingga Atambua.

Peserta 95 orang berasal dari sejumlah kota di Indonesia, bahkan dari Singapura. Mereka bukan atlet, melainkan professional dan pelaku usaha yang menyukai bersepeda jarak jauh.

Flores dan Timor dinilai sebagai jalur yang menantang. Selain melewati daerah pesisir, ada pujal daerah dengan ketinggian sekitar 1.600 mdpl, seperti Ruteng Bajawa, dan Kelimutu, dengan suhu udara dingin dan berkabut. Jalan yang dilewati pun banyak tanjakan, turunan, kelokan, dan hanay sedikit yang landai.

“Saya baru sekali ke Flores, tahun 2010, ke Maumere utnuk mendaki di gunung Egon. Panorama gunung itu sungguh emankjubkan. Saya lalu penasaran dengan wilayah lain Pulau Flores. Namun, niat untuk ke sana lagi termasuk ke Labuan Bajo, selalu gagal. Kali ini kesempatan itu datang dengan tantangan yang lebih seru, yakni bersepeda dari ujung barat Flores hingga Timor,” kata Mark.

Nyonya Yoke Latief )53), pesepeda dari kelapa gading, Jakarta, mengaku penasaran. “Bayangkan, setiap kabupaten yang dilalui memiliki bahasa daerah berbeda-beda. Ini unik dan tak ada di wilayah lain,” ujarnya.

Alam Flores dan Timor memang menantang. Alam in tak sekadar melahirkan manusia yang pantang menyerah yang menghargai perbedaan, tetapi jgua melukiskan kehdiupan yang penuh liku-liku menyerupai ribuan kelokan, tanjakan, dan turunan yang dilalui. Dari alam ini, pesepeda pun akan menemukan hakikat hidup.

 [Sumber : Kompas, Sabtu, 13 Agustus 2016 | Oleh JENNES EUDES WAWA]

Baca juga : Mencari Identitas yang Hilang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *