JELAJAH SEPEDA FLORES – TIMOR 13-23 AGUSTUS ‘16

Posted on Posted in blog

MENEMBUS PELANGI dari atas RODA SEPEDA

Tukang-Jalan.com® AKHIRNYA, Tantangan itu pula yang melengkapi kesempurnaan pesona alam Flores . “Perjalanan ini seperti menyaksikan pelangi. Tantangan sekaligus keindahan hadie penuh warna di setiap penjelajah,” ujar Basri Kamba, pengusaha asal Jakarta, sala hsatu peserta JSFT.

Sebanyak 76 pesepeda JSFT berkumpul dari sejumlah profesi, mulai dari pengusaha, karyawan swasta, jurnalis, dosen, hingga polisi. Masing-masing memegang harapan besar mendapatkan pengalaman tak telupakan menjelajahi Pulau Flores dan Timor dengan bersepeda yang diselenggarakan harian Kompas didukung Bank Mandiri.

Pengalaman mereka dapatkan melalui serangkaian perjalanan bermedan ekstrem sejauh 1.200 km dari Labuan bajo di ujung barat Flores-Atambua hingga berakhir persis di ujung batas Negara dengan Timor Leste.

Para pesepeda mengakui beratnya medan, yang lansung mereka hadapai mulai satu jam pertama meninggalkan garis awal di Pelabuhan Labuan Bajo. Perjalanan darat etape pertama sepanjang 135 km menuju ibu kota Ruteng, Kabupaten Manggarai, mengagetkan. Dari 76 pesepeda, tak sampai 20 orang yang berhasil mencapai akhir perjalanan etape itu tanpa bantuan evakuasi.

Energy terkuras menanjaki Puarlolo yang merupakan puncak tertinggi etape pertama jalur Trans-Flores. Jalanan yang semula landai seketika menjadi tanjakan tajam tanpa akhir sepanjang 20 km, menuju puncak ketinggian 915 mdpl.

Kejamnya medan diperparah oleh suhu panas dan angin kencang yang menerpa sepanjagn dataran Sananggoang hingga Lembor. Sebagian pesepeda mengalami keram kaki. Satu persatu bertumbangan.

Etape demi etape berlanjut dengan beragam tantangan. Pada etape kedua, tiga pesepeda jatuh tergelincir saat melewati turunan berkelok tajam dan berpasir. Satu turunan selalu dibalas dengan tikungan curam. Pemandangan jurang berlatar perbukitan mengisi sepanjang sisi luar jalur. Sedikit saj atak awas, tubuh pesepda meluncur ke balik jurang.

Medan tak kalah berat dialami pada etape kelima dari Kelumutu menuju Maumere. Pada setiap 1 km terdapat belasan kelokan.

Pesona Alam

Uniknya, semakin berat tantangan yang dilalui, pespeda dibawa terpikat akan pesona alam Flores. Panorama pegunungan menjulang nan hijau mengisi jalur-jalur yang dilalui.

“Mendengar kicauan burung di gunung-gunung itu membuat saya merinding,” kata Johnes Herwanto, peserta asal Jakarta yang bekerja di PT Pembangunan Jaya Ancol dan tergabung dalam komunitas sepeda Ancol Cycling Team.

Petualangan melelahkan pun terbayar oleh pengalaman menikmati hamparan kebun kopi arabika di Kabupaten manggarai dan Ngada. Menginap semalam di rumah tradisional Kampugng Adat Bena. Bermalam dan merayakan peringatan HUT ke-71 RI di puncak Danau Kelimutu, hingga mengunjungi tempat suci umat Katolik di Larantuka.

Herwanto takkan melupan pengalamanya melewati malam nan dingin dalam suhu 10°C di punggung Danau Kelimutu. Pagi-pagi buta keesokan harinya, peserta langsugn mendaki puncak Kelimutu di ketinggian 1.600 mdpl.

Mereka menyaksikan matahari terbit dari balik perbukitan. Sinar itu menerangi tiga danau yang sedang berwarna hijau. Di puncak danau, mereka menegakkan bendera Merah Putih, memberi homrat, dan menyanyikan “Indonesia Raya”. “Peringatan kemerdekaan kali in imenggoreskan sejarah dalam hidup saya,” ujar Herwnato.

Kenangan serupa dirasakan Dede Supriyatna (52), peserta dari Bandung, Jawa Barat. Hampir semua etape memberinya pengalaman emas. “Namun, paling seru saat bermalam dalam tenda di Danau Kelimutu. Tidur malam di ketinggian dengan pemandangan indah dan udara sangat dingin,” katanya.

Stefanus Tedjo (53), karyawan PT Mitra Adi Perkasa Jakarta, mengaku gembira di sepanjang perjalanan. Ia pun menikmati berbagai momen, termasuk befoto di banyak perhentian.

Salah satu pantai yang dikunjungi, yaitu Pantai Koka di Kabupaten Sikka, dinilainya sangat indah. “Ke depan, saya pikir pantai itu menjadi salah satu yang ramai dikunjungi wisatawan karena berdekatan dengan Danau Kelimutu,” kata Stefanus.

Peserta berlayar mengarungi perairan terluas NTT, Laut Sawu, selama 12 jam dari Flores menuju Timor. Dari Kota Kupang, jelajah sepeda terus berlanjut menuju Atambua selama tiga hari. Di Pulau Timor, kelokan dan tanjakan jauh lebih sedikit, tetapi tantangan yang diberikan adalah suhu panas hingga 42◦c.

Alex Jersey (49), peserta berdarah Medan berdomisili di Jakarta, terkesan oleh keramahan penduduk di Flores dan Timor. Itneraksi dengna masyarakat terjalin akrab di semua perhentian. Apda etape ke-8, Kupang – Soe, saat rombongan beristirahat makan siang di sekolah satu atap Takari, ia menghampiri 16 anak usia SD dan SMP. Ia mengajak anak-anak menyanyikan lagu “Indonesia Raya”.

Para pesepeda membuktikan, untuk mencapai garis akhir tak cukup mengandalkan teknik, mental, dan stamina semata. Sebuah perjuangan yang tidak mudah, tetapi semangat dan kebersamaan menjadi obat perekat sesame pesepeda selama 11 hari menempuh perjalanan yang melelahkan. [Sumber : Kompas, Rabu, 24 Agustus 2016 | Oleh : Frans Pati Herin |Kornelis Kewa Ama|Irma Tambunan]

Baca juga : berlimpah dollar As di perbatasan

Peserta Jelajah Sepeda Flores-Timor disambut anak-anak sekolah saat menempuh etape terakhirdi Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, Selasa (23/8). Tim menempuh jarak sejauh 126 kilometer pada etape XI Kefamenanu-Motaain. Kompas/Totok Wijayanto (TOK) 23-08-2016 *** Local Caption *** Peserta Jelajah Sepeda Flores-Timor membeli kain tenun yang dibuat warga saat melintasi Desa Fafinesu, Kecamatan Insana Fafinesu, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, Selasa (23/8). Tim menempuh jarak sejauh 126 kilometer pada etape XI Kefamenanu-Motaain. Kompas/Totok Wijayanto (TOK) 23-08-2016
#Peserta JSFT berpapasan dengan anak-anak yang baru pulang sekolah saat menempuh etape terakhier di Kabupaten Timor Tengah Utara, NTT, Selasa (23/8). Tim menempuh jarah sejauh 126Km pada etape ke-11 Kefmenanu-Motaain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *