cognac1

AVONTUR |Kuliner

Posted on Posted in AVONTUR KULINER, CULINARY

tukang-jalan.com® KURANG lebih begitu tema yang digagas Chef Chris Salans saat menjamu dan memanjakan lidah para tamu undangan makan malam Cognac Pairing Hennesey.

Khusus kepada kami, beberapa saat sebelum jamuan makan malam dimulai, Chef Salans memaparkan sejumlah menu racikannya.

Pada acara makan malam special yang digelar di Paradis Imperial beberapa waktu lalu. Chef Salans menyajikan empat menu utama, yang kemudian diakhiri dua hidangan pencuci mulut.

Oleh Chef Salans, kedau macam menu tadi juga memang sengaja dia saji padukan dengan masing-masing satu dari tiga jenis cognac yang menjadi inti utama perjamuan tersebut.

“Menu-menu yang saya hidangkan malam ini punya dua macam tantanga. Pertama, setiap hidangan harus bisa cocok dengan sandingan cognac (cognac pairing). Kedua, mempertahankan ciri khas masakan saya, menu Perancis, yang akan selalau focus pada bumbu-bumbu Indonesia,” ujar Salans.

Perpaduan antar dua latar budaya seperti disinggung Salans, Perancis dan Indonesia, tadi memang sangat tampak dari beragam bahan baku serta bumbu yang dia gunakan di setiap hidangan kali ini.

Ciri khas seperti itulah yang menurut Chef Salans memang menajdi yang utama dari beragam hidangan premium racikannya, termasuk yang juga disajikan di jaringan restoran miliknya, Mozaic, yang berbasis di Bali.

foie gras terrine
foie gras terrine

Sebut saja kali ini antara lain perpaduan antara bumbu daun serai dengan hati angsa berlemak (foie gras terrine) dan daging belut (eel) impor dari Spanyol untuk menu hidangan pertama.

Sementara di menu kedua Chef Salanas juga memadukan daging udang lobster Kanada dan taburan kaviar Rusia, dengan racikan bumbu adas jintan dengan dressing atau kucuran jeruk purut.

Pada menu andalan ketiganya, sang Chef yang telah tinggal dua decade lebih dan beristrikan perempuan Indonesia itu juga membuat sebuah kejutan. Dia memadupadankan pasta ravioli, foie gras terrine, dengan orak-arik kering tempe, yang juga ditaburi dengan parutan jamur truffle.

Chef Salans mengaku memang “keranjingan” makan temped an sambal hampir setiap hari di rumah, walau menurutnya banyak orang masih menganggap tempe makanan kelas menengah ke bawah.

Adapun di menu utama keempat, Chef Salans memfokuskan masakannya pada padu padang daging sapi bagian pinggang (loin), yang dipanggang cepat.

Daging panggang bagian pinggang sapi itu ditambahi pula dnenga acar kol merah, buah berry Lombok, dan campuran bumbu rempah, lada Bali, yang dipanggang lalu dicampur dengna gula aren. “Saya selalu berusaha untuk tak sekadar memasak makanan Perancis, namun juga memberinya semacam signature rasa dan bumbu asli Indonesia,” tambahnya.

Dengan paduan bumbu dan rempah asli Indonesia macam kluwek, kecombrang, atau belimbing wuluh, Chef Salans ingin mencoba selalu menciptakan kejutan-kejutan bagi para penikmat hidangannya.

“Kalau anda pernah menonton film kartun (animasi) chef yang seekor tikuts, Ratatouille, ada adegan seorang kritikus mencicipi makanan lalu, boom! Makanan itu seolah menghadirkan lagi ingatan masa kecilnya. Saya ingin selalu bisa menciptakan kejutan seperti itu,” tukasnya.

Kejutan sensasi rasa

cognacUpaya Chef Salans memang bukannya tanpa hasil satu persatu menu utama yang dihidangakn memang terbilang sukses menghadirkan petualangan rasa yang unik. Dimulai dari hidangan pertam, perpaduan rasa gurih dan smokey dari pasta hati angas dan daging belut, “ditimpali” rasa kecut dan sedikit pahit dari saus jeruk purut, dan juga aroma khas daun serai.

Potongan-potongan kubus kecil apel yang ikut dimasak bersama, juga semaki nemnambah kesegara rasa. Oleh Chef Salans, hidangan pertama ini dinilai cocoik utnuk disandingkan dengan beberapa teguk Henessi XO, yang boleh juga disajikan dingin dengan ditambah es batu.

Memasuki menu kedua, kejutan kembali muncul saat  sensasi kelezatan daging lobster Kanada yang telah dikpas kulitnya serta sesendok kaviar hitam Rusia beradu rasa dengan asam dan kesegaran dari saus  jeruk purut dan acar kol merah.

Rasa gurih, asin, asam, dan segar seolah muncul bergantian dalam setiap suapan dan kunyahan salahs atu dari banyak menu andalan Chef Salans tersebut. Utnuk menu kedua ini, segelas Hennessy Paradis menjadi pilihan sandingan.

Kondisi perut terbilang masih menjelang kenyang saat hidangan utama ketiga datang disajikan. Pada setiap jeda, para tamu jamuan malam  dihibur dengan kehadiran artis-artis penyanyi dan pemusik.

Tidak hanya itu, pengetahuan para tamu juga bertambah dengan paparan Duta Besar Cognac Hennessy, Jean-Michel Cochet.

Dengan rinci dia membagi pengetahuannya tentang banyak hal seputar produk minuman anggur beralkohol, yang memang hanya bisa diproduksi di daerah Cognac, Perancis, sesuai namanya itu.

Pada menu ketiga lagi-lagi Chef Salans mencoba utnuk menghadirkan sensasi untik lewat masakannya. Bagaimana tidak, tahap pertama Chef Salans menjadikan pasta hati angsa berlemak (foie gras terrine) sebagai isian pasta jenis ravioli berbentuk pangsit, yang biasanya diisi sayur bayam.

Pangsit ravioli berisi pasata daging hati angsa berlemak itu lalu disiraminya dengan puree encer, yang kali ini dibuat dari tanaman sejenis umbi sayuran artichoke. Elemen pengejut dihidangkan ke tiga ini ada pada tabuarna orak-arik tempe dipotong kecil-kecil dan digoren kering, dan juga ditambha remah-remah jamur truffle di atas ravioli berkuah tadi.

Sementara pada menu keempat, potongan daging bagian pinggan sapi (loin) yang dipanggang setengah matang terasa lembut saat dikunyah. Rasa lembut dan juicy dari daging loin tadi juga semakin terasa lengkap saat diselingi dengna rasa segar acar kol merah, masamnya butiran-butiran buah berry Lombok, yang seolah meletus dal mulut saat digigit.

Untuk lebih melengkapi kenikmatan menu hidangan utama terakhir ini para peserta jamua nkembali “dihibur” dengan segelas Cognac Hennessy Paradis, yang menurut sang duta besar memiliki cita rasa yang ringan.

cognac hennessey paradis
cognac hennessey paradis

Kenikmatan jamuan malama kali ini ditutup dengan dua menu pencuci mulut, seperti Es Krim Berempah ala Maluku dengan jelly jeruk orange, yang “diperkaya” dengan “siraman” Cognac Hennessy Paradis.

Lebih lanjut sebagai “pengunci” makan malam, sajian pencuci mulut terakhir adalah hidangan trio pastry krim, kue cokelat Valrhona, yang “disegarkan” dengan es krim bercita rasa jeruk Bali.

Sebagai penanda paripurna santap malam itu, para peserta disajikan segelas cognac jenis Paradis Imperial, yang dipuji memiliki cita rasa dan keagungan laksana seorang raja. Tak disangka, ketika unsure Indonesia teracik dalam menu Perancis, mampu bersanding rasa dengan minuman cognac.

[ tukang-jalan.com® — Sumber : Kompas, Minggu 6 November 2016 | Oleh : WISNU DEWABRATA ]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *