Wanaka

AVONTUR PERJALANAN | Alam Fantastis Negeri Kiwi

Posted on Posted in ADVENTURE

Hari masih pagi ketika mobil jip Land Rover Defenders 4WD, dengan pelat bertuliskan nama salah satu karakter kurcaci dalam film ”Lord of The Rings”, Frodo bergerak merayap perlahan. Kami menyusur jalur sempit naik turun dan becek, bahkan licin karena salju. Pelan tetapi pasti, kami menuju kota hantu, Macetown dan Arrowtown, di Selandia Baru.

Tukang-Jalan.com  – SEPANJANG pekan pada akhir Mei lalu, saya berkesempatan memenuhi undangan Badan Perlancongan Selandia Baru (TBNZ) mengikuti tur ke sejumlah tujuan wisata yang ada di pulau selatan Negeri Kiwi tersebut. Kedua kota tadi menjadi persinggahan pertama setiba di Queenstown, kota tempat menginap selama berada di sana.

Jalur Queenstown ke Wanaka
Jalur Queenstown ke Wanaka

Arrowtown dan Macetown dikenal sebagai kota tua tempat dulu orang berburu emas. Lokasinya terletak sekitar 1,5 jam arah timur laut dari Queenstown. Kota Arrowtown masih berfungsi dan ditinggali. Banyak bangunan tua masih berdiri walaupun berubah fungsi menjadi kafe dan restoran.

Sementara kota Macetown, yang lokasinya berada jauh terpencil di kawasan pegunungan, kini sudah tinggal sisa-sisa satu-dua bangunan dan reruntuhan yang tadinya rumah tinggal. Ada juga beberapa mesin dan peralatan yang dulu dipakai untuk mencari emas di area pegunungan, yang keberadaannya tetap dipertahankan sebagai lokasi perpelancongan.

Bersama sopir sekaligus pemandu wisata Nomad Safaris, Matt Bennell, saya bergerak menyusuri jalur ”perburuan emas” masa lalu, Macetown, yang kini sudah tidak berpenghuni alias menjadi sebuah kota hantu. Hanya tersisa satu-dua bangunan rumah batu, yang sengaja direnovasi dan dibiarkan berdiri sebagai tujuan wisata.

Pada masa kejayaannya, saat demam emas melanda kawasan ini, kota Macetown ditinggali ratusan orang, sebagian besar para imigran dari China. Kota tersebut hidup sepanjang tahun 1884-1914 dan lantas ditinggalkan begitu saja ketika keberadaan emas dianggap sudah semakin berkurang dan habis. Menurut Matt Bennell, untuk bisa sampai ke lokasi tersebut, butuh perjuangan, bahkan pada masa sekarang. Selain harus melintasi jalan sempit berdinding lereng batu terjal yang kerap longsor serta jurang-jurang dalam, orang juga harus menyeberangi setidaknya 25 persimpangan dengan Sungai Arrowtown yang, walau tak terlalu dalam, arusnya deras dan juga sungainya terbilang lebar di beberapa titik.

Wanaka
Wanaka

Di jalur menuju Macetown juga terdapat satu lokasi persimpangan dengan sungai, yang pernah dijadikan lokasi pengambilan gambar salah satu adegan di film Lord of The Rings, sekuel The Fellowship of The Ring, yaitu saat salah satu tokoh Elf, Arwen, merapal mantra pemanggil air bah untuk menghalau kejaran pasukan berkuda berkekuatan jahat Nazgul demi menyelamatkan Frodo.

Selain bersafari, para pelancong juga bisa merasakan petualangan mendulang emas dengan menggunakan nampan khusus. Sebelum didulang, mereka harus terlebih dulu mencari spot tepat di mana diperkirakan terdapat kandungan emas di dalam tanahnya. Jika beruntung, orang bisa mendapat bongkahan emas (gold nugget), yang tentunya bernilai tinggi.

”Setiap tahun ada festival dan lomba mendulang emas. Saya sendiri kadang melakukannya untuk menghabiskan waktu. Sekadar hobi. Ada warga lokal serius mencari emas. Mereka malah membeli alat pendeteksi logam seharga ribuan dollar Selandia Baru. Banyak orang yakin masih ada banyak emas di sini, terutama di lereng-lereng pegunungan,” ujar Matt Bennell.

Pemerintah setempat juga sudah tidak lagi mengeluarkan izin penambangan emas komersial. Namun, mereka tidak melarang petambang individual dengan cara manual. Bahkan, para turis yang beruntung saat mengikuti paket wisata mendulang emas diperbolehkan menjual emas hasil temuan mereka di toko emas di kota Arrowtown.

”Pemasukan uang dari pariwisata alam tampaknya jauh lebih menguntungkan. Mungkin karena itulah pemerintah tak lagi merasa perlu mengeluarkan izin pertambangan emas. Kondisi seperti itu pastinya menguntungkan bagi upaya pelestarian alam di sini. Banyak bisnis terkait pariwisata juga turut berkembang,” ujar pria asal Melbourne, Australia, itu.

Alam dan petualangan

Milfroundoud S
Milfroud Sound

Kebanyakan paket wisata yang ditawarkan di Selandia Baru, terutama pulau selatannya, memang berbentuk paket petualangan luar ruang, yang ”menjual” keindahan pemandangan alam. Beberapa pilihan bahkan menawarkan perjalanan menyusuri kawasan alam, baik dengan berjalan kaki atau panjat tebing; bersepeda dan kendaraan bermotor, baik mobil lintas alam maupun bus besar beratap kaca; maupun perjalanan dengan perahu cepat, kapal pesiar, atau pesawat udara berbaling-baling kecil.

Wisata alam dan petualangan luar ruang tak heran memang menjadi menu utama pariwisata di negeri ini lantaran Selandia Baru memiliki banyak danau dan sungai, pegunungan bebatuan, tebing-tebing tinggi, gletser, serta pemandangan teluk dan perairan cantik, seperti yang bisa ditemukan di kawasan wisata alam Milford Sound.

Milfroud Sound
Milfroud Sound

Setelah Macetown, TBNZ mengatur perjalanan ke beberapa lokasi wisata alam danau-danau besar yang indah, seperti Te Anau, danau terbesar kedua di Selandia Baru, seluas 344 kilometer persegi, dengan panjang 61 kilometer, dan kedalaman air 417 meter. Juga ke Danau Wakatipu, danau terbesar ketiga seluas 291 kilometer persegi, dengan panjang 84 kilometer dan kedalaman 380 meter.

Dari Queenstown, para wisatawan bisa mengambil paket wisata menuju Milford Sound dengan menggunakan bus besar, yang bagian atapnya dibuat dari bahan kaca sehingga orang bisa puas menikmati pemandangan area pegunungan dan pepohonan di sepanjang jalan. Bus tersebut berangkat pagi-pagi sekali dari Queenstown, sekitar pukul 06.30, saat matahari juga masih belum terbit.

Perjalanan bus memakan waktu sekitar 3,5 jam, dengan beberapa kali perhentian, termasuk untuk menikmati pemandangan Danau Te Anau dan Danau Cermin (Mirrors Lake). Begitu tiba di dermaga Milford Sound, wisatawan langsung berpindah moda transportasi, menaiki kapal pesiar yang lumayan besar, dan sanggup mengangkut hingga ratusan penumpang. Selama sekitar 2,5 jam, wisatawan akan dibawa berlayar menelusuri jalur teluk yang berbentuk memanjang dan sempit dengan tebing-tebing batu tinggi di kanan dan kirinya (fiord). Panjang jalur tersebut membentang sejauh 15 kilometer dari dermaga menuju Laut Tasmania, selepas Teluk Anita.

Sepanjang perjalanan, wisatawan juga disuguhi beragam jenis keindahan alam dan kekayaan flora serta fauna di jalur, yang oleh sastrawan terkenal abad ke-19 sekaligus pemenang Nobel Sastra tahun 1907, Rudyard Kipling, digambarkan sebagai Keajaiban Dunia Kedelapan.

Selain tebing-tebing gunung batu tinggi di kanan dan kiri jalur kapal pesiar, para wisatawan juga bisa menikmati sejumlah air terjun, yang terbentuk dari gletser yang mencair di puncak-puncak gunung. Juga beragam jenis hewan-hewan habitat asli Milford Sound, seperti mamalia laut lumba-lumba hidung botol, anjing laut, serta burung penguin mata kuning, siap menyambut para turis yang datang.

Danau dengan 2 pulau kecil
Danau dengan 2 pulau kecil

Jika masih belum puas, orang juga bisa menikmati keindahan kawasan itu dari angkasa, dengan menyewa pesawat udara baling-baling kecil, baik berpenumpang 7 orang maupun 13 orang. Pesawat yang saya tumpangi saat itu adalah jenis Gippsland GA-8 Airvan, yang mampu terbang dengan kecepatan maksimal hingga 220 kilometer per jam.

Walau lumayan membuat deg-degan lantaran kadang pesawat sedikit terguncang saat angin kencang pegunungan menerpa atau ketika awan tipis menabrak baling-baling tunggal di moncong pesawat, secara keseluruhan perjalanan udara di langit Milford Sound tersebut terbilang lumayan seru dan mengasyikkan.

Dari ketinggian sekitar 2.100 meter, wisatawan dapat menikmati pemandangan menakjubkan puncak-puncak gunung batu berselimutkan awan tipis dan salju putih. Atau juga sesekali melihat sejumlah genangan berbentuk kolam besar, yang airnya berasal dari gletser yang mencair. Air itulah yang menjadi sumber air terjun, yang kemudian mengalir ke sungai dan danau-danau yang ada.[*/Tukang-jalan.com|Sumber: Harian Kompas, Minggu, 5 Juni 2017 halaman 29 |Oleh: WISNU DEWABRATA]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *